Pendidikan

8.510 Siswa SD dan SMP di Mimika Ikut Ujian Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Willem Naa

MIMIKA, BM

Sebanyak 8.510 siswa SD dan SMP di Mimika mengikuti ujian sekolah yang dilaksanakan mulai tangga 8-13 Mei 2023.

Ujian diikuti para siswa dari 137 sekolah SD dengan jumlah siswa sebanyak 4.872 dan 60 sekolah SMP dengan jumlah 3.638 siswa.

Terkait pelaksanaan ujian, dinas telah membagi para pengawas ke sekolah untuk memantau pelaksanaan ujian sekolah. Pengawasan dilakukan secara silang.

"Ini ujian nasional (UN) tapi diganti menjadi ujian sekolah untuk tingkat SD maupun SMP, dimana kelulusan ditentukan pihak sekolah," Kata Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Wilem Naa saat ditemui di Kantor Bappeda, Senin (8/5/2023).

Ujian sekolah saat ini merupakan syarat kelulusan karena merupakan pengganti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang ditiadakan oleh pemerintah pusat.

Ujian sekolah juga bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara utuh. Asesmen hasil belajar siswa ini menjadi kewenangan dari masing-masing sekolah.

"Para gurulah yang bisa mengetahui proses belajar siswa serta bisa menilai secara utuh menggunakan beragam jenis atau bentuk asesmen," katanya.

Untuk ujian hari pertama ini, Wilem mengaku sudah pantau secara langsung semua sekolah yang melaksanakan ujian.

"Dan saya sudah sampaikan ke kepala-kepala sekolah bahwa jika ada siswa yang sakit maka harus dan wajib mengikuti ujian susulan. Jadi nanti saya akan pantau," ungkapnya.

Ia mengingatkan semua kepala sekolah bahwa pelajar adalah anak bangsa yang di titip oleh Tuhan. Masa depan mereka juga ditentukan oleh para guru sehingga ia berharap mereka dapat melihat kekurangan yang ada untuk dibantu.

"Kami harapkan agar anak-anak baik SD dan SMP ini dapat lulus 100 persen," harapnya. (Shanty Sang) 

Pimpin Upacara Hardiknas, Pj Sekda : Teruslah Terus Berinovasi, Perjalanan Harus Terus Dilanjutkan

Pemotongan kue ulang tahun Hardiknas 2023

MIMIKA, BM

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika Petrus Yumte memimpin Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Apel tersebut digelar di halaman Pusat Pemerintahan, Selasa (2/5/2023).

Pada kesempatan tersebut, Pj Sekda Petrus berpesan kepada para guru agar terus berinovasi, sehingga siswa-siswi dapat meraih cita-cita bangsa dan mencerdaskan kehidupan dunia.

Sekda yang membacakan sambutan Menteri Pendidikan mengatakan, Selama tiga tahun terakhir, perubahan besar terjadi di sekitar kita, dari ujung Barat sampai ujung Timur Indonesia.

"Sebanyak 24 episode Merdeka Belajar yang telah diluncurkan membawa kita semakin dekat dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan yang menuntun bakat, minat, dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai seorang manusia dan sebagai anggota masyarakat," jelas Pj Sekda Petrus.

Petrus mengatakan, anak-anak sekarang bisa belajar dengan lebih tenang karena aktivitas pembelajaran mereka dinilai secara lebih holistik oleh gurunya sendiri.

Para kepala sekolah dan kepala daerah yang dulu kesulitan memonitor kualitas pendidikan, sekarang dapat menggunakan data Asesmen Nasional di Platform Rapor Pendidikan untuk melakukan perbaikan kualitas layanan pendidikan.

Para guru sekarang berlomba untuk berbagi dan berkarya dengan hadirnya Platform Merdeka Belajar. Selain itu, guru-guru yang dulu diikat berbagai peraturan yang kaku sekarang lebih bebas berinovasi di kelas dengan hadirnya Kurikulum Merdeka.

Sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi, seleksi masuk perguruan negeri pun sekarang fokus pada mengukur kemampuan literasi dan bernalar.

"Pada jenjang perguruan tinggi, adik-adik mahasiswa yang dulu hanya belajar teori di dalam kelas sekarang bisa melanglang buana mencari pengetahuan dan pengalaman di luar kampus dengan hadirnya program-program Kampus Merdeka," Ujarnya.

Dari segi pendanaan, pencarian langsung Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), pemanfaatannya yang lebih fleksibel telah memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar.

Dengan perluasan program beasiswa, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sekarang lebih terbuka. Dukungan dana untuk mendanai riset juga telah melahirkan begitu banyak inovasi yang bermula dari kolaborasi.

Selain itu, mekanisme dana yang fleksibel dapat mewadahi gagasan-gagasan kreatif para seniman dan pelaku budaya sehingga mampu menghasilkan karya hebat yang mendukung kemajuan kebudayaan.

"Mari kita ingat, bahwa bersama-sama kita telah membuat sejarah baru dengan gerakan Merdeka Belajar. Transformasi yang masif ini sudah sepatutnya dirayakan dengan penuh syukur dan semarah, karena semuanya adalah hasil dari kerja keras dan kerja sama kita," tuturnya.

Ia mengatakan, Hari Pendidikan Nasional tahun ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk merefleksikan kembali setiap tantangan yang sudah dihadapi, juga setiap langkah berani yang sudah diambil.

Dengan merefleksikan hal-hal yang telah dilakukan sepanjang tiga tahun terakhir tentu dapat merancang arah perjalanan ke depan guna memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan Merdeka Belajar.

"Layar yang sudah kita bentangkan jangan sampai terlipat lagi. Kita semua, para tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan, seniman dan pelaku budaya, juga peserta didik di seluruh Nusantara, adalah kapten dari kapal besar yang bernama Indonesia ini," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Sekda, bahwa perjalanan harus dilanjutkan, perjuangan mesti diteruskan, agar semua anak bangsa merasakan kemerdekaan yang sebenar-benarnya dalam belajar dan bercita-cita.

"Oleh karena itu, mari kita semarakkan hari ini dengan semangat untuk meneruskan perwujudan Merdeka Belajar, Mendidik Pelajar Pancasila yang cerdas berkarakter, dan membawa Indonesia melompat ke masa depan dengan pendidikan yang memerdekakan,"pungkasnya. (Shanty Sang

Di Balik Keterbatasan, Anak Down Syndrome Asal Mimika Mampu Bersinar di Ajang Nasional

Avrillia Fransina Beatrick Beanal didampingi Kepsek SLB Negeri Mimika Sunardi

MIMIKA, BM

Di balik keterbatasan seorang anak Down Syndrome atau Syndrome Seribu Wajah ada seorang putri daerah asal Papua tepatnya Kabupaten Mimika yang berhasil menorehkan prestasi di ajang tingkat nasional.

Adalah Avrillia Fransina Beatrick Beanal seorang siswa kelas IV dari SLB Negeri Mimika yang berhasil mengharumkan Mimika dan memperoleh emas pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang olahraga BOCCE.

Ajang ini dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang dilaksanakan secara daring (online-red) pada tanggal 5-9 September 2022 lalu.

BeritaMimika berkesempatan berbincang-bincang dengan Avrillia Fransina Beatrick Beanal yang didampingi oleh Kepala Sekolah SLB Negeri Mimika Sunardi Rabu, (5/4/2023).

Sunardi menjelaskan anak Down Syndrome memiliki hambatan yang lebih unik daripada tuna grahita atau bisa dikatakan seribu wajah.

“Secara akademik memang dia memiliki keterbatasan tetapi kalau di tes IQ secara psikologi memiliki kemampuan diatas rata-rata,” katanya.

Disebut ada perbedaan yang sangat nampak antara penderita Down Syndorme yang disekolahkan dan tidak.

“Yang tidak sekolah akan membuat sesuatu menjadi bahan perhatian, atau kalau senang komunikasikan dengan orang asal saja atau sok tahu sok kenal. Kalau tidak sekolah mereka tidak tahu ada tamu, upacara bendera dan sebagainya,” jelasnya.

“Kalau disekolahkan mereka akan menjadi anak yang memiliki kemandirian, kedisiplinan dan etika. Kelihatan sekali kemampuan pribadinya.

Dijelaskan, di sekolah mereka diajarkan hal sederhana seperti mewarnai, menggambar, dan aktivitas belajar ke arah bagaimana mereka mampu mengurus diri sndiri.

"Kalau dimanja sampai besar tidak akan bisa apa-apa,” imbuhnya.

Dikatakan penderita ini pun akan mengalami masa pubertas dimana ada masa ketertarikan dengan lawan jenis dan bagi perempuan akan mengalami masa monopause.

“Paling tidak mereka mengerti perintah sederhana dan tahu mana yang boleh atau tidak. Anak-anak jadi tahu tata krama. Untuk yang perempuan yang mengalami monopause tahu cara memakai pembalut dan mandiri. Minimal tahu kebutuhan dirinya,” paparnya.

Sunardi menuturkan anak adalah titipan Tuhan begitu juga Down Syndrome. Tidak semua orang tua diberikan berkat dari Tuhan. Selama percaya dan mau menerima pasti ada rejeki tersendiri dari Tuhan.

“Secara fisik bagus, hanya yang jadi hambatan itu kemampuan intelektualnya sehingga kita maksimalkan kemampuan bina diri, mengurus diri, bersosialisasi, beradaptasi dan potensi yang bisa dikembangkan seperti Beatrick dia dari bidang olahraga,” ucapnya.

Sunardi pun melihat bahwa animo dan perhatian masyarakat akan anak berkebutuhan khusus sudah mulai terbuka. Hal ini terlihat dari jumlah murid yang ada yang mana pada tahun kemarin ada anak yang usia sudah lewat baru disekolahkan.

“Ini berarti sudah ada kepedulian dari orang tua bahwa mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan. Kewajiban kita memberikan layanan itu karena di Timika ada satu sekolah. Kalau anak seperti ini tidak dimaksimalkan, dimandirikan atau tidak sekolah mungkin diluar menjadi bahan bullyan dan olokan. Anak ini haris dimandirikan bukan dilayani,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Top