Perpustakaan Mimika Lakukan Peningkatan SDM dan Pelayanan Dengan Cara Ini

Para pegawai Perpustakaan Mimika saat mendengarkan penjelasan materi dari narasumber Perpustakaan Nasional
MIMIKA, BM
Selama empat hari, terhitung Selasa (22-25/3) perwakilan dari Perpustakaan Nasional berada di Mimika.
Mereka hadir untuk membantu meningkatkan pengetahuan tentang sistem pelayanan dan wawasan pegawai di Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Mimika, khususnya di bagian manajemen sumber daya manusia.
Ditemui BeritaMimika, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Mimika, Yopi Toisuta menyebutkan pelatihan ini untuk mewujudkan fungsi dan tujuan perpustakaan, pengelola bertanggungjawab memberikan pelayanan yang prima.
Menurut Toisuta, perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi.
Artinya, tujuan perpustakaan adalah memberikan pelayanan kepada pengguna, meningkatkan budaya dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam rangka menciptakan bangsa yang cerdas
"Saya membuat pelatihan sistem pelayanan karena kita Dinas Perpustakaan tidak ada orang Pustakawan, semua dengan latar pendidikan yang berbeda-beda. Jadi untuk meningkatkan SDM di Dinas Perpustakaan dalam pelayanan kita harus datangkan narasumber dari Jakarta bagian pelayanan di Perpustakaan Nasional," jelasnya.
Terang Yopi, narasumber mengajarkan tentang sistem pelayanan yang benar-benar baik dan efisien serta menyentuh masyarakat.
Outputnya, agar pegawai perpustakaan Mimika mampu memahami dan mengamalkannya dalam peran dan tanggungjawab masing-masing.
"Pengunjung bukan datang hanya pinjam buku tapi bagaimana juga dalam pelayanan itu dapat dijelaskan kepada mereka untuk harus mengenal buku-buku dan penomorannya. Jadi bukan orang datang kasih pinjam buku lalu pulang. Itu juga termasuk tapi yang paling utama penguasahan buku-buku yang ada di perpustakaan," jelasnya.
Tidak hanya petugas namun pengunjung juga harus memahami penomoran di perpustakaan. Ini juga akan membantu dan memudahkan mereka mencari buku yang mereka inginkan.
"Kita ada 25 orang yang ikut pelatihan dan dari jumlah itu akan di kurangi lagi menjadi 10 orang. 10 orang itu kita akan bagi shift dalam pelayanan perpustakaan. Cuma yang menjadi kendala kita di kearsipan karena kita tidak punya depot arsip jadi dokumen-dokumen tidak bisa disimpan. Kalau pun mau di simpan nanti hilang siapa yang mau bertanggungjawab,"ujarnya.
Menurutnya, depot arsip merupakan tempat untuk tempat menyimpan dokumen-dokumen negara, riwayat kepala daerah dan berbagai hal lainnya. Hanya saja hingga saat ini Mimika belum memilikinya.
"Planing saya itu sebelum masa jabatan bupati dan wakil bupati berakhir kita sudah punya pusat sentra pendidikan, depot arsip dan Museum. Saya sudah pernah bicara dengan pak bupati agar kita punya depot arsip agar ke depan jangan timbul persoalan lagi," ungkapnya.
Sementara itu, narasumber dari Perpusnas Yulia Tri Bunga mengatakan, pelatihan ini untuk menjelaskan tentang layanan perpustakaan.
Ia menjelaskan, layanan perpustakaan adalah layanan yang diberikan oleh perpustakaan dalam hal informasi kepada pengunjung yang datang ke perpustakaan baik secara langsung maupun online, email dan lain-lain.
"Kami coba mengawali dengan pretest kemudian kami memberikan materi sehingga ke depan nanti layanan di perpustakaan ini bisa menjadi layanan prima yaitu layanan yang memuaskan pemustaka, bukan hanya kepuasan dalam hal tersedianya koleksi tetapi juga kepuasan akan informasi, sikap dan tingkah laku pustakawan dalam hal memberi informasi," jelas Tri.
Dijelaskan, bahwa ada 5 unsur yang ada di perpustakaan yaitu pustakawan, pemustaka, koleksi, sarana prasarana dan anggaran. Kelima unsur itu harus menyatu di sebuah perpustakaan, karena kalau salah satu tidak ada maka layanan tidak akan berjalan dengan baik.
Selain itu, diajarkan juga tentang etika layanan, bagaimana cara seorang pustakawan menerima pengunjung yang datang ke perpustakaan. Pustakawan harus memberikan layanan prima dimulai dengan mengenal diri sendiri.
"Kami juga mengajarkan tentang layanan rujukan karena teknik-teknik untuk memuaskan pemustaka untuk mencari informasi kuncinya di layanan rujukan. Dan kita juga mengajarkan bagaimana caranya pustakawan ataupun pengunjung yang datang ke perpustakaan dapat mencari informasi yang tepat dan cepat," ungkapnya. (Shanty)
























