Tangkapan Layar Live Streaming Misa Paskah V Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Amandus saat homili
MIMIKA, BM
Dalam Misa Hari Minggu Paskah V yang dilaksanakan pada Minggu (18/5/2025) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Paroki Amandus Rahadat, Pr. menyerukan pesan perdamaian di Tanah Papua khususnya di Keuskupan Timika dan Jayapura.
Melalui bacaan Injil Yohannes, Pastor Amandus dalam homilinya mengatakan Yesus memberikan perintah baru kepada murid-Nya dan tentu kepada seluruh umat untuk saling mengasihi seperti Kasih Yesus.
"Kasih Yesus tidak bertepi, tidak berujung, tidak bersekat. Kasih Yesus non diskriminatif, tidak pilih-pilih orang dan kasih Yesus nampak dalam karya nyata, bukan teori yang hanya disampaikan di mimbar-mimbar gereja," katanya mengawali homili.
Lanjutnya, dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, Paulus dan Barnabas menterjemahkan hukum kasih itu dengan berjalan keliling untuk menyebarkan ajaran Yesus.
Kasih semacam itu akan menghadirkan kondisi seperti dalam bacaan kedua kitab Wahyu yakni Allah akan menghapus air mata dari mata mereka dan maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis dan dukacita.
"Seperti selama ini umat kita di pedalaman mengalaminya," ucapnya.
Pastor Amandus kemudian menyebut pada tanggal 14 Mei 2025 telah terpilih seorang imam putra asli Papua ditahbiskan menjadi Uskup yakni Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dengan moto "Ego Sum Ostium" atau " Akulah pintu"
Selain itu juga, pada 2 Februari 2023 telah terpilih seorang imam anak asli Papua Uskup Keuskupan Jayapura yakni Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, dengan moto "Ego Vobiscum Sum" yang berarti "Aku Menyertai Kamu".
"Ini kata-kata Yesus dan lagi-lagi tersirat pesan kasih yang beraroma damai. Dalam kemunculan pertama, Paus mengucapkan kalimat La Pace Sia Con Voi “Semoga damai menyertai anda sekalian. Yang lahir dari sebuah praktik cinta," ungkapnya.
Pastor Amandus mengajak umat untuk memaknai moto dua uskup yang syarat dengan kasih dan damai.
"Menyimak sambutan pertama Paus (Paus Leo XIV-red) yang juga menyapa umat di halaman Basilika dengan damai. Memahami isi bacaan kitab suci hari ini yang juga syarat dengan pesan kasih dan damai," tuturnya.
Ia lalu mengkritisi kondisi di lapangan dua keuskupan yakni Keuskupan Jayapura dan Timika, dimana sadar atau tidak disadari masih ada warga umat yang hidup dalam kondisi tidak damai, selalu ada konflik
"Yahukimo itu Keuskupan Jayapura, Intan Jaya itu Keuskupan Timika. Dan, setiap kali kita mendengar ada anggota TNI Polri yang tewas, kadang ada anggota TPN-OPM yang tewas, dan yang paling menyedihkan ada anggota masyarakat sipil yang tidak berdosa juga tewas. Mereka bukan binatang mereka manusia," tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pastor Amandus berpesan untuk menolak prinsip keliru bahwa perang membawa damai.
"Ada sebuah moto kuno dari bangsa Romawi "Si vis pacem, para bellum." Ini bahasa Latin. Kalau anda mau menciptakan damai siaplah untuk berperang. Ini salah," ujarnya.
Dikatakan, Gereja Katolik tidak menerima prinsip seperti itu. Ia mengIngatkan bahwa dalam setiap perang, menang jadi arang kalah jadi debu. Senjata bukan solusi untuk menciptakan perdamaian. Itu keliru.
"Seberapa banyakpun senjata yang dimiliki TNI Polri, seberapa banyak senjata yang dimiliki TPN-OPM, ingat senjata tidak menghasilkan damai. Senjata memusnahkan kasih. Ini pendapat Gereja Katolik," tegas Pastor Amandus.
Ia menuturkan bahwa korban kematian meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan baik bagi keluarga TNI Polri maupun TPN-OPM.
"Apalagi warga sipil yang tidak berdosa yang entah kena peluru nyasar atau sengaja ditembak, mereka punya keluarga-keluarga yang sakit disini (hati-red) karena ada korban," sesalnya.
Pertanyaan dari Gereja Katedral untuk bangsa dan negara, apakah tidak ada cara yang lebih berbudaya daripada cara barbar yang dipertontonkan selama ini?
"Negara harus jawab, Tentara Polisi, TPN-OPM harus jawab," tanyanya.
Pastor Amandus kemudian berpesan yang kedua yakni damai yang beraroma kasih hanya diperoleh lewat dialog.
"Dialog itu tidak semahal senjata yang didistribusi dan diperjualbelikan. Dialog hanya membutuhkan sebuah keterbukaan hati, keterbukaan pikiran untuk duduk dan bicara. Maka, seruan kepada kita semua petinggi-petinggi negara ini, petinggi OPM, petinggi TNI Polri, ayolah berdialoglah," serunya.
Perasaan gengsi (harga diri-red) bahwa kalau berdialog nanti dianggap kalah, menurutnya Itu merupakan pemikiran bodoh.
"Nyawa anak-anak bangsa ini terlalu mahal untuk digadai. Negara tidak boleh mengorbankan prajurit-prajurit yang berjuang hanya karena tidak ada dialog," tukasnya.
Lanjutnya, TPN-OPM itu bukan musuh negara, bukan juga teroris mereka adalah rakyat yang protes karena saluran dialog tersumbat.
"Sadar itu. Mereka adalah rakyat yang punya aspirasi yang membutuhkan solusi. Gereja Katedral Timika menyerukan mari berdialoglah," ajaknya.
Kembali Pastor berpesan yang ditujukan kepada seluruh umat Jayapura, Timika, seluruh imam, Uskup Jayapura dan Uskup Timika untuk menterjemahkan moto kedua uskup OAP dalam aksi nyata.
Agar moto ""Ego Vobiscum Sum" dan "Ego Sum Ostium" tidak tinggal terpampang tanpa makna hanya sebuah slogan, khususnya di daerah konflik.
"Itulah ungkapan kasih yang membawa damai. Saya sedih mendengar cerita pastor-pastor di Intan Jaya," ungkapnya.
Pastor Amandus lalu menyapa kedua uskup OAP yakni Uskup Yan dan Uskup Bernard.
"Dari hati yang dalam saya menyapa anda berdua, kuat-kuatlah mengemban tugas rasuli seperti Yesus, menebarkan kasih dan damai," harapnya.
Posisi kedua uskup tersebut menurutnya strategis karena masuk dalam kolegium episkoporum itu tingkat dunia.
"Hantarlah kami umatmu untuk menikmati cinta yang baru ini diperintahkan Yesus dengan cara damai. Itulah cara gereja Katolik. Tuhan memberkati dua uskup kita, Tuhan memberkati seluruh umat yang berkehendak baik. Amin," pungkasnya menutup khotbahnya. (Elfrida Sijabat)