Budaya

TIFA 2025 Spesial, Kedatangan Wakil Menteri Kebudayaan RI dan Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata

Semarak TIFA 2025

MIMIKA, BM

Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2025 tahun ini sangat spesial karena akan kedatangan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata Reza Fahlevi.

Hal ini diungkapkan Ketua Panitia TIFA 2025, Garselo Ambiop kepada BeritaMimika, Rabu (21/5/2025) di sela-sela kegiatan Gladi Bersih yang dilaksanakan di halaman Graha Eme Neme Yauware.

"Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata Reza Fahlevi akan hadir di hari terakhir dan akan menutup TIFA 2025," katanya.

Selain itu, untuk pertama kalinya Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Mimika turut terlibat memeriahkan pagelaran tersebut dalam pameran budaya.

Garselo menuturkan pagelaran ini akan dilaksanakan selama tiga hari terhitung sejak Kamis (22/5/2025) hingga Sabtu (24/5/2025).

"TIFA 2025 akan dibuka dengan Karnaval Mimpi dimana akan diperagakan pakaian budaya dari seluruh nusantara khususnya pakaian Papua," ucapnya.

Di Karnaval Mimpi nanti Garselo mengungkapkan akan dilombakan busana terbaik dan menarik untuk peserta yang mengikuti karnaval dan jurinya rahasia.

"Selain itu juga, ada terobosan baru di tahun ini yaitu Talingkar Cinta, lomba menganyam rambut. Kami angkat itu karena ada tim yang berangkat ke Jayapura mengikuti kurasi dimana harus mengangkat budaya Papua," ucapnya.

"Budaya Papua itu banyak maka diangkatlah dari Papua Tengah Talingkar Cinta tentang rambut orang Papua yang identik dengan keriting dan anyaman rambutnya," imbuhnya.

Tingkar Cinta sendiri dikatakan Garselo mendapat apresiasi yang luar biasa dari peserta luar Timika yakni Biak, Nabire dan Deiyai.

"Hari kedua ada panggung pertunjukan beserta Papua Culutre Weak dan Papua Plus Size di fashion show, ada juga tabur TIFA yang menampilkan sanggar-sanggar. Tahun ini banyak dari luar Timika seperti Biak, Nabire, Deiyai dan Jayapura. Mereka sudah sampai semua tadi," paparnya.

Sementara pada hari ketiga akan diisi dengan pengumuman para juara dan menyuguhkan pertunjukan panggung dari seniman seluruh Indonesia yang berkolaborasi dengan TIFA.

"Di tahun ini TIFA masih dipercaya masuk 110 Karisma Even Nusantara. Ini tahun kedua TIFA masuk. Luar biasa sekali karena juga akan ditutup oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata Reza Fahlevi," ujarnya.

Dampak positif TIFA 2025 sendiri untuk memajukan budaya Papua dan budaya Mimika pada khususnya sangat terlihat. 

"Dengan adanya TIFA, pemerintah support selalu, saling mendukung dan mengundang seluruh seniman yang ada di Timika untuk berkolaborasi agar bermunculan seniman-seniman budaya muda dari Timika," harapnya. (Elfrida Sijabat)

Semangat Nasionalisme, Polres Mimika Laksanakan Upacara Peringati Hari Kebangkitan Nasional

Suasana upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional

MIMIKA, BM

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 tahun, Kepolisian Resor Mimika menggelar upacara bendera di halaman apel Mapolres Mimika, Mile 32, Selasa (20/05/2025).

Upacara dipimpin oleh Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, dengan dihadiri seluruh personel Polres Mimika. 

Dalam amanatnya, Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman membacakan pidato resmi Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dalam rangka peringatan Harkitnas ke-117.

Pidato tersebut menggambarkan bagaimana 117 tahun lalu, di tengah tekanan kolonialisme telah lahir kesadaran baru melalui pendirian organisasi Budi Utomo yang menjadi tonggak awal kebangkitan nasional Indonesia.

“Bangsa ini mulai membangun keyakinan bahwa nasib tidak boleh selamanya digantungkan kepada kekuatan asing. Kemajuan hanya bisa dicapai bila kita bangkit berdiri di atas kekuatan sendiri,” demikian kutipan yang dibacakan Kapolres. 

Dalam amanat tersebut Kapolres juga mengatakan bahwa kebangkitan itu bukanlah sebuah peristiwa yang selesai dalam satu masa. Kebangkitan adalah ikhtiar yang terus hidup serta menuntut untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi menuntut keberanian untuk menjawab tantangan jaman ini.

"Jaman yang menghadirkan ujian jauh lebih kompleks, disrupsi teknologi, ketegangan geopolitik, krisis pangan global dan ancaman terhadap kedaulatan digital kita," kata Kapolres.

Lanjutnya, ditengah polarisasi dunia, Indonesia mengambil posisi sebagai trusted partner - bebas dalam menentukan kepentingan nasional dan aktif membangun dialog yang produktif dengan berbagai pihak. Prinsip inilah yang menjadikan Indonesia kian dihormati di berbagai forum internasional.

"Kehadiran kita di pentas global bukan sekadar untuk menyuarakan kepentingan nasional, tetapi juga untuk membawa gagasan dan solusi yang memberi manfaat bersama. Di tengah dunia yang terus menghadapi ketidakpastian, Indonesia tampil sebagai mitra dialog yang mampu menjembatani kepentingan," ujar Kapolres. 

Dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini diharapkan meneguhkan kembali arah perjalanan bangsa. Dalam semangat itu, pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai kompas utama Kebangkitan Nasional. 

"Mari kita jaga kebangkitan ini dengan semangat yang sama seperti akar pohon yang menembus tanah. Perlahan tapi pasti, tak selalu terlihat, namun kokoh menopang kehidupan," ucap Kapolres dalam kutipan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (Ignasius Istanto)

Pesan Perdamian Pastor Amandus Rahadat dari Gereja Katedral Tiga Raja Timika

Tangkapan Layar Live Streaming Misa Paskah V Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Amandus saat homili

MIMIKA, BM

Dalam Misa Hari Minggu Paskah V yang dilaksanakan pada Minggu (18/5/2025) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Paroki Amandus Rahadat, Pr. menyerukan pesan perdamaian di Tanah Papua khususnya di Keuskupan Timika dan Jayapura.

Melalui bacaan Injil Yohannes, Pastor Amandus dalam homilinya mengatakan Yesus memberikan perintah baru kepada murid-Nya dan tentu kepada seluruh umat untuk saling mengasihi seperti Kasih Yesus. 

"Kasih Yesus tidak bertepi, tidak berujung, tidak bersekat. Kasih Yesus non diskriminatif, tidak pilih-pilih orang dan kasih Yesus nampak dalam karya nyata, bukan teori yang hanya disampaikan di mimbar-mimbar gereja," katanya mengawali homili.

Lanjutnya, dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, Paulus dan Barnabas menterjemahkan hukum kasih itu dengan berjalan keliling untuk menyebarkan ajaran Yesus.

Kasih semacam itu akan menghadirkan kondisi seperti dalam bacaan kedua kitab Wahyu yakni Allah akan menghapus air mata dari mata mereka dan maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis dan dukacita. 

"Seperti selama ini umat kita di pedalaman mengalaminya," ucapnya.

Pastor Amandus kemudian menyebut pada tanggal 14 Mei 2025 telah terpilih seorang imam putra asli Papua ditahbiskan menjadi Uskup yakni Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dengan moto "Ego Sum Ostium" atau " Akulah pintu"

Selain itu juga, pada 2 Februari 2023 telah terpilih seorang imam anak asli Papua Uskup Keuskupan Jayapura yakni Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, dengan moto "Ego Vobiscum Sum" yang berarti "Aku Menyertai Kamu". 

"Ini kata-kata Yesus dan lagi-lagi tersirat pesan kasih yang beraroma damai. Dalam kemunculan pertama, Paus mengucapkan kalimat La Pace Sia Con Voi “Semoga damai menyertai anda sekalian. Yang lahir dari sebuah praktik cinta," ungkapnya.

Pastor Amandus mengajak umat untuk memaknai moto dua uskup yang syarat dengan kasih dan damai.

"Menyimak sambutan pertama Paus (Paus Leo XIV-red) yang juga menyapa umat di halaman Basilika dengan damai. Memahami isi bacaan kitab suci hari ini yang juga syarat dengan pesan kasih dan damai," tuturnya.

Ia lalu mengkritisi kondisi di lapangan dua keuskupan yakni Keuskupan Jayapura dan Timika, dimana sadar atau tidak disadari masih ada warga umat yang hidup dalam kondisi tidak damai, selalu ada konflik

"Yahukimo itu Keuskupan Jayapura, Intan Jaya itu Keuskupan Timika. Dan, setiap kali kita mendengar ada anggota TNI Polri yang tewas, kadang ada anggota TPN-OPM yang tewas, dan yang paling menyedihkan ada anggota masyarakat sipil yang tidak berdosa juga tewas. Mereka bukan binatang mereka manusia," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Amandus berpesan untuk menolak prinsip keliru bahwa perang membawa damai. 

"Ada sebuah moto kuno dari bangsa Romawi "Si vis pacem, para bellum." Ini bahasa Latin. Kalau anda mau menciptakan damai siaplah untuk berperang. Ini salah," ujarnya.

Dikatakan, Gereja Katolik tidak menerima prinsip seperti itu. Ia mengIngatkan bahwa dalam setiap perang, menang jadi arang kalah jadi debu. Senjata bukan solusi untuk menciptakan perdamaian. Itu keliru. 

"Seberapa banyakpun senjata yang dimiliki TNI Polri, seberapa banyak senjata yang dimiliki TPN-OPM, ingat senjata tidak menghasilkan damai. Senjata memusnahkan kasih. Ini pendapat Gereja Katolik," tegas Pastor Amandus. 

Ia menuturkan bahwa korban kematian meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan baik bagi keluarga TNI Polri maupun TPN-OPM.

"Apalagi warga sipil yang tidak berdosa yang entah kena peluru nyasar atau sengaja ditembak, mereka punya keluarga-keluarga yang sakit disini (hati-red) karena ada korban," sesalnya.

Pertanyaan dari Gereja Katedral untuk bangsa dan negara, apakah tidak ada cara yang lebih berbudaya daripada cara barbar yang dipertontonkan selama ini?

"Negara harus jawab, Tentara Polisi, TPN-OPM harus jawab," tanyanya.

Pastor Amandus kemudian berpesan yang kedua yakni damai yang beraroma kasih hanya diperoleh lewat dialog.

"Dialog itu tidak semahal senjata yang didistribusi dan diperjualbelikan. Dialog hanya membutuhkan sebuah keterbukaan hati, keterbukaan pikiran untuk duduk dan bicara. Maka, seruan kepada kita semua petinggi-petinggi negara ini, petinggi OPM, petinggi TNI Polri, ayolah berdialoglah," serunya.

Perasaan gengsi (harga diri-red) bahwa kalau berdialog nanti dianggap kalah, menurutnya Itu merupakan pemikiran bodoh. 

"Nyawa anak-anak bangsa ini terlalu mahal untuk digadai. Negara tidak boleh mengorbankan prajurit-prajurit yang berjuang hanya karena tidak ada dialog," tukasnya.

Lanjutnya, TPN-OPM itu bukan musuh negara, bukan juga teroris mereka adalah rakyat yang protes karena saluran dialog tersumbat. 

"Sadar itu. Mereka adalah rakyat yang punya aspirasi yang membutuhkan solusi. Gereja Katedral Timika menyerukan mari berdialoglah," ajaknya.

Kembali Pastor berpesan yang ditujukan kepada seluruh umat Jayapura, Timika, seluruh imam, Uskup Jayapura dan Uskup Timika untuk menterjemahkan moto kedua uskup OAP dalam aksi nyata.

Agar moto ""Ego Vobiscum Sum" dan "Ego Sum Ostium" tidak tinggal terpampang tanpa makna hanya sebuah slogan, khususnya di daerah konflik.

"Itulah ungkapan kasih yang membawa damai. Saya sedih mendengar cerita pastor-pastor di Intan Jaya," ungkapnya.

Pastor Amandus lalu menyapa kedua uskup OAP yakni Uskup Yan dan Uskup Bernard.

"Dari hati yang dalam saya menyapa anda berdua, kuat-kuatlah mengemban tugas rasuli seperti Yesus, menebarkan kasih dan damai," harapnya.

Posisi kedua uskup tersebut menurutnya strategis karena masuk dalam kolegium episkoporum itu tingkat dunia. 

"Hantarlah kami umatmu untuk menikmati cinta yang baru ini diperintahkan Yesus dengan cara damai. Itulah cara gereja Katolik. Tuhan memberkati dua uskup kita, Tuhan memberkati seluruh umat yang berkehendak baik. Amin," pungkasnya menutup khotbahnya. (Elfrida Sijabat)

 

 

Top