Budaya

Dua Uskup Pimpin Misa Perayaan Paskah PUKAT YMY Mimika

Foto bersama usai misa perayaan Paskah PUKAT Mimika

MIMIKA, BM

Persekutuan Umat Katolik Toraja Yesus Maria Yosef (PUKAT YMY) Kabupaten Mimika menggelar Misa perayaan Paskah. Misa yang digelar Jumat (16/5/2025) itu dipimpin langsung oleh Uskup Agung Makassar Mgr. Fransiskus Nipa dan Uskup Mgr. Petrus Boddeng Timang yang juga Uskup asal Toraja didampingi beberapa orang Pastor. 

Misa yang digelar di Gedung Tongkonan itu mengusung tema "Massande Langngan Puang Lan Kasipulungan".

Turut hadir Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, Kepala Dinas Perhubungan Jania Basir, anggota DPRK Mimika Desy dan tamu undangan.

Dalam momen Misa perayaan Paskah PUKAT YMY tersebut, dilakukan penggalangan dana dengan cara lelang benda-benda rohani yang diberkati langsung oleh Uskup Mgr. Fransiskus Nipa dan juga menggelar Ebamukai untuk pembangunan Tongkonan Katolik Toraja.

Ketua PUKAT YMY Kabupaten Mimika, Yohana Paliling, mengungkapkan PUKAT YMY Mimika adalah komunitas masyarakat Toraja yang beragama Katolik. Organisasi ini terbentuk Tahun 1999 dan terus berjalan hingga saat ini, jadi sudah sekitar 26 tahun.

Saat ini data yang tercatat ada 461 kepala keluarga (KK) yang menjadi anggota PUKAT dengan jumlah jiwa sekitar 2.000 lebih orang. Itupun pendataan masih berjalan.

"Saya yakin bahwa masih banyak keluarga kita yang belum terdata dengan baik," kata Yohana.

Katanya, PUKAT ini hadir bukan hanya untuk membantu pelayanan Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Mimika tetapi hadir dengan cinta dan peduli bagi pelayanan kemasyarakatan sosial di Mimika ini.

"Saya berterima kasih bahwa atas dukungan kita semua terutama keluarga PUKAT dalam kesibukan kita masing-masing tetapi kita masih sempat berkumpul," tutur Yohana.

Ia berharap PUKAT YMY Mimika tetap berdiri tegak sebagai keluarga, tetap setia dan bersukacita dalam pelayanan masing-masing dimanapun berkarya.

Sementara itu, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dalam sambutannya mengaku bersyukur karena umat Katolik di Mimika mendapatkan seorang gembala umat yang sekian lama dinanti-nantikan yaitu peristiwa iman dimana memperoleh gembala setelah mengalami kekosongan selama 5 tahun lebih.

"Ini sesuatu yang sangat luar biasa karena ini adalah Uskup yang merupakan putra Papua kedua," kata Wabup Emanuel.

Lanjutnya, Pesta Paskah itu momen yang sangat penting bagi umat Kristiani dalam peristiwa penyelamatan yaitu dengan kebangkitan Yesus Kristus yang diimani bahwa Yesus mengalahkan maut dan membawa harapan baru bagi seluruh umat manusia.

"Didalam kebangkitan-NYA kita diajak untuk mengangkat kepala kita, meninggalkan segala beban dan kesedihan dan menyambut hidup yang baru. Hari ini kita juga bersyukur atas berkat-berkat yang kita terima," ujarnya.

Ia mengajak semua yang hadir untuk mengingat bahwa setiap hari adalah merupakan anugerah dari Tuhan.

"Dengan hati yang penuh syukur mari kita mempersembahkan segala aktifitas kita kepada-NYA. Semoga hidup kita selalu mencerminkan kasih Kristus kepada sesama," serunya.

Wabup Emanuel berharap Persekutuan Umat Katolik Toraja semakin erat, karena lewat persekutuan semua bisa berkembang dengan baik. (Shanty Sang)

Misa Pontifikal, Uskup Timika Kisahkan Peristiwa Mistik Para Murid Bersama Allah

Mgr.Bernadus Bofitwos Baru, OSA saat menyampaikan homili di misa perdananya

MIMIKA, BM

Usai ditahbiskan, Mgr.Bernadus Bofitwos Baru,OSA Uskup Keuskupan Timika langsung memimpin misa pontifikal yang diikuti ribuan umat pada Kamis (15/5/2025) pagi.

Misa Pontifikal merupakan misa pertama yang dipimpin Mgr.Bernadus Bofitwos Baru, OSA setelah resmi ditahbiskan.

Misa Pontifikal menandai dimulainya pelayanan publik sebagai uskup Keuskupan Timika. Di misa ini Mgr. Bernadus Bofitwos Baru, OSA bertindak sebagai selebran utama didampingi be berapa uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia dan para imam sebagai konselebran.

Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernadus Bofitwos Baru, OSA dalam homilinya menceritakan peristiwa mistik para murid Yesus bersama sang guru yaitu Allah supaya mendengarkan putra terkasihnya Yesus Kristus.

"Allah yang memperlihatkan kemuliaan anakNYA di atas gunung dan Allah menegaskan bahwa Yesus adalah putra kesayangannya. Karena itu kita mestinya mendengarkan Yesus dan ajarannya dengan sungguh-sungguh,"kata Uskup Bernadus.

Pada ayat ketujuh injil Markus yang mengisahkan demikian maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengarlah suara 'Inilah Anak Yang Kukasihi, Dengarkanlah Dia.

Uskup mengatakan Seruan suara dari dalam awan yang mengatakan inilah anak yang kukasihi dengarkanlah dia memiliki dua aspek penting.

Pertama adalah seruan ajakan dari Allah bapa di surga kepada umat manusia agar menyadari dan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah utusan putra tunggal Allah bapa yang datang menjadi manusia dalam segala hal kecuali dalam hal dosa.

"Karena itu kita harus mendengar dan mengikuti Dia dengan sungguh-sungguh, dengan iman dan cinta,"ujarnya.

Ia kemudian mengatakan kepada umat apa yang dimaksud dengan mendengarkan? Mengapa mendengarkan Yesus dan apa gunanya bagi kita mendengarkan Yesus sang putra Allah?!

Mgr Bernardus menjelaskan, konsep penulis Injil Markus ini tentang peristiwa bertitik tolak dari refleksi teologis yang bersumber pada ide kristologi apokalitik atau kristologi tentang identitas Yesus yang kemudian menjadi Kristus Tuhan dan juru selamat yang akan diperolehnya.

Kemudian setelah menjalani proses penderitaan dan salib, Ia akan menjadi juru selamat dan pembebas bagi semua. Tema transmigurasi adalah pokok tentang kemanusiaan Yesus yang akan mengalami kemuliaan abadi setelah Ia akan menjalani proses salib dan kebangkitan.

"Yesus yang imanen historis akan kembali ke dalam kemuliaan abadinya bersama Allah bapa di surga, maka pengajaranNYA bagi kita para pengikutnya bahwa kitapun akan mengalami format transfigurasi yang sama dengan Yesus asalkan kita mampu mengajarkan, mendengarkan, mampu mencintai dan mengikuti Dia,” ungkapnya.

Selain itu melaksanakan perintah-perintah cinta kasihNYA serta mampu menghidupinya dalam hidup setiap hari yaitu mengikuti jalan salibnya menuju golgota.

”Maka kita pun akan diperkenankan menikmati kemuliaan ilahiNYA dalam kemuliaan di surga secara penuh pada zaman akhir setelah perjalanan dan perziararahan di dunia ini,"tutur Uskup Bernadus.

Katanya, ffirma penderitaan Yesus sebagai anak Allah dan fiadolorosanya jalan penderitaan menjadi jalan satu-satunya keselamatan umat manusia kepada Allah di surga sebagai putra dan putri kesayanganNYA sehingga kita juga berhak akan memperoleh kemuliaan yang sama.

"Kita menjadi Alter Kristi agar menghadirkan Kristus yang lain itu, Kristus yang penuh kasih, persahabatan, dekat dengan sesama satu sama lain, menghargai martabat manusia dan alam. Itulah yang diharapkan Yesus kepada kita,"katanya.

Karena itu menurut  Uskup Benediktus, manusia akan memancarkan cahaya kemuliaanNYA mulai dari sekarang dan akan sempurna pada saatnya dalam kemuliaan abadi.

Dikatakan, bahwa gunung, awan dan suara didalam awan tersebut adalah tanda atau simbol yang menampakkan kehadiran Allah sebagaimana yang dialami Musa bersama umat Israel selama perjalanan di Padang gurun menuju tanah terjanji.

Maka ketika berbicara tentang tanda atau simbol maka berbicara tentang sakramen-sakramen gereja dimana melalui tanda atau simbol gereja Kristus hadir bersuara mengajak umat untuk mendengar, mengikuti, percaya dan mencintaiNYA dalam diri satu sama lain.

"Maka dengan demikian marilah kita menyikap sikap sikap iman, ketaatan kepada ajaran dan perintah tuhan Yesus, keberanian untuk memikul salib bersama Yesus karena memperjuangkan kebenaran iman, kasih dan harapan,"ucapnya.

Tidak hanya itu, Mgr Bernadus juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya persaudaraan sejati, serta menentang sikap-sikap yang merusaknya, seperti rasisme, mentalitas superioritas, dan kesombongan.

Ia meminta, umat Katolik, khususnya yang berasal dari tradisi religius konservatif, untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah.

“Tradisi ini bukan sekadar pesta pora atau menyanyikan lagu-lagu, melainkan momen keheningan, kesendirian, dan meditasi untuk mendengarkan suara Tuhan. Inilah yang sangat penting dalam hidup kita sebagai biarawan,” pesannya.

Mgr Bernadus juga menegaskan pentingnya meninggalkan distraksi duniawi seperti telepon genggam agar dapat fokus pada kehadiran Yesus dalam sakramen.

Uskup juga meminta refleksi diri dalam konteks Papua dimana budaya dan mentalitas terkadang menghadirkan tantangan dalam mendengarkan sesama.

Pasalnya, setiap kali memiliki budaya atau merasa lebih tinggi dari yang lain, tentu akan cenderung meremehkan budaya orang lain.

"Anggapan bahwa budaya satu kelompok lebih hayati dari yang lain. Konsep ini harus kita tinggalkan, karena cinta Tuhan tidak hanya diukur dari materi, tetapi dari nilai kemanusiaan yang sejati,"ujarnya.

Uskup mengatakan, mentalitas superioritas budaya bertentangan dengan ajaran Yesus yang merendahkan diri demi umat manusia.

Yesus menjadi miskin dan dihina untuk uumat manusia, maka tidak ada alasan bagi mmanusia untuk mempertahankan mentalitas sombong. Kita semua adalah saudara dalam Kristus.

Pasalnya, akan ada dampak negatif dari mentalitas rasisme dan superioritas dalam sistem gereja, masyarakat, dan negara.

Banyak kebijakan yang diambil berdasarkan mentalitas rasisme dan superioritas, sehingga banyak orang tidak mendapatkan perhatian yang maksimal.

“Kita belajar dari Yesus dan para murid yang meninggalkan segalanya karena kita semua adalah saudara. Ketika kita mendengarkan dengan hati yang sungguh-sungguh, kita juga mampu mendengarkan suara orang lain,”ujarnya.

Oleh karena itu, hendaklah untuk selalu merendahkan hati. Karena kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan, yang merupakan akar dari segala dosa.

Karena sombong, dosa-dosa lain akan mengikuti, dan hati menjadi gelap serta sulit mendengarkan suara Tuhan.

Menyikapi semua itu, marilah seluruh umat, gereja, negara, pemerintah, dan semua pihak yang berkehendak baik untuk membuka hati seperti Yesus membuka hati bagi semua.

Mgr Bernadus juga menyinggung situasi di Tanah Papua, dimana masih terdapat banyak pengungsi dan permasalahan agraria.

“Mari kita dengarkan teriakan saudara-saudara kita. Gereja secara institusi dan komunitas harus berani membuka diri untuk mendengarkan dan berdialog, bukan bersikap otoriter. Karena inilah yang dikehendaki oleh Tuhan. Mari kita mohon kerajaan Allah agar cita-cita Papua damai dapat terwujud,”tutup Mgr.Bernadus. (Shanty Sang)

Di Misa Syukur Pelantikan JOEL, Uskup Agung Ende : Masyarakat NTT Harus Tetap Bersatu Dengan Sesama


Bupati Mimika dan istri bersama Wakil Bupati dan istri saat menerima pemberkatan dari Uskup Agung Ende.

MIMIKA, BM

Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD sangat berharap keluarga besar Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di Kabupaten Mimika untuk tetap selalu menjaga persatuan dan kesatuan.

"Harapan dari kami keluarga besar Nusa Tenggara Timur, terutama dari Keuskupan Agung Ende agar tetap terpelihara ikatan dengan sesama di Mimika," ungkap Uskup ketika memberikan sambutan seusai memimpin misa syukur pelantikan Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong, di gedung Eme Neme Yauware, Kamis (15/05/2025).

Dalam sambutannya, Uskup Agung Ende mengaku senang, karena ini menjadi momen kerinduannya untuk bertemu dengan masyarakat NTT yang ada di Timika.

"Saat diundang untuk pimpin misa saya langsung katakan ia, karena ini merupakan kerinduan saya untuk bertemu dengan saudara-saudari dari NTT," ungkap Uskup.

Dikesempatan ini Mgr. Paulus mengatakan bahwa kehadiran masyarakat NTT di Mimika bisa menjadi berkat bagi masyarakat di sini, dan juga kepada keluarga yang ditinggalkan di Nusa Tenggara Timur.

"Seperti yang dikatakan bahwa dimana bumi dipijak, dimana langit dijunjung, kita harus menghargai adat budaya yang ada," kata Uskup Agung Ende.

Oleh karena itu Uskup Agung Ende berharap kepada seluruh keluarga besar NTT yang ada di Timika agar tetap terpelihara ikatan dengan sesama.

"Saya juga berharap kepada bupati dan wakil bupati semoga membantu saudara kami di sini,"ucap Mgr. Paulus.

Misa syukur ini, mendapat apresiasi dan ucapan terimakasih dari Bupati Mimika,Johannes Rettob.

"Terimakasih banyak buat masyarakat NTT yang sudah melaksanakan misa syukur buat kami berdua," ucapnya.

Bupati John juga merasa bangga atas kebersamaan dan kekompakan masyarakat NTT dalam memberikan dukungan ia dan Emanuel Kemong menjadi bupati dan wakil bupati.

"Politik telah selesai dan mari sekarang kita sama-sama bangun Kabupaten Mimika. Mari bersama-sama kita saling memberikan dukungan buat kami berdua dalam membangun Kabupaten yang tercinta ini,"kata Bupati Mimika.

Ucapan yang sama juga disampaikan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong kepada masyarakat NTT atas dukungan yang sudah diberikan menjadi pemimpin daerah.

"Terimakasih buat masyarakat NTT yang sudah mendukung kami berdua jadi bupati dan wakil bupati, dan terima kasih juga atas inisiatif terselenggaranya misa syukur,"ucapnya.

Selain itu juga Wakil Bupati menyampaikan ucapan terimakasih kepada Uskup Ende yang sudah memberikan berkat kepada dirinya dan Bupati Mimika.

"Ini menjadi kekuatan buat kami berdua, dan ini akan menjadi inspirasi buat kami untuk bisa membantu masyarakat,"ucap Emanuel Kemong.

Sebelumnya Ketua panitia syukuran NTT for JOEL, Darius Sabon menjelaskan pelaksanaan misa syukur pelantikan Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong secara pribadi mungkin sudah dilakukan, namun secara paguyuban warga Nusa Tenggara Timur (NTT) belum dilakukan.

"Ini sebagai jawaban mungkin ada yang bertanya kenapa baru sekarang dilaksanakan. Misa syukur ini juga merupakan gagasan dari beberapa sesepuh kami,"ungkapya.

Ia juga menyampaikan misa syukur dilaksanakan dengan satu komitmen bahwa semua perjuangan yang dilakukan dari proses pemilihan bupati dan wakil bupaya merupakan berkat campur tangan Tuhan.

"Jadi sebagai umat beriman kita percaya bahwa semua kekurangan dan kemenangan kita peroleh adalah berkat dan campur tangan Tuhan sehingga hari ini seluruh warga NTT berkumpul di sini untuk memuji dan memeriahkan Tuhan atas berkat karuniNYA,"ujar Darius.

Lanjitnya momen ini juga merupakan momen untuk saling memaafkan satu sama lain, bersatu kembali dan merajut kembali persatuan dan persaudaraan bersama sebagai Satu Nusa Tenggara Timur.

“Sehingga kedepan kita bergandengan tangan untuk mendukung pemerintahan bapak bupati dan wakil bupati dalam menjalankan pemerintahan 5 tahun ke depan,"sambung Darius. (Ignasius Istanto)

Top