
Mgr.Bernadus Bofitwos Baru, OSA saat menyampaikan homili di misa perdananya
MIMIKA, BM
Usai ditahbiskan, Mgr.Bernadus Bofitwos Baru,OSA Uskup Keuskupan Timika langsung memimpin misa pontifikal yang diikuti ribuan umat pada Kamis (15/5/2025) pagi.
Misa Pontifikal merupakan misa pertama yang dipimpin Mgr.Bernadus Bofitwos Baru, OSA setelah resmi ditahbiskan.
Misa Pontifikal menandai dimulainya pelayanan publik sebagai uskup Keuskupan Timika. Di misa ini Mgr. Bernadus Bofitwos Baru, OSA bertindak sebagai selebran utama didampingi be berapa uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia dan para imam sebagai konselebran.
Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernadus Bofitwos Baru, OSA dalam homilinya menceritakan peristiwa mistik para murid Yesus bersama sang guru yaitu Allah supaya mendengarkan putra terkasihnya Yesus Kristus.
"Allah yang memperlihatkan kemuliaan anakNYA di atas gunung dan Allah menegaskan bahwa Yesus adalah putra kesayangannya. Karena itu kita mestinya mendengarkan Yesus dan ajarannya dengan sungguh-sungguh,"kata Uskup Bernadus.
Pada ayat ketujuh injil Markus yang mengisahkan demikian maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengarlah suara 'Inilah Anak Yang Kukasihi, Dengarkanlah Dia.
Uskup mengatakan Seruan suara dari dalam awan yang mengatakan inilah anak yang kukasihi dengarkanlah dia memiliki dua aspek penting.
Pertama adalah seruan ajakan dari Allah bapa di surga kepada umat manusia agar menyadari dan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah utusan putra tunggal Allah bapa yang datang menjadi manusia dalam segala hal kecuali dalam hal dosa.
"Karena itu kita harus mendengar dan mengikuti Dia dengan sungguh-sungguh, dengan iman dan cinta,"ujarnya.
Ia kemudian mengatakan kepada umat apa yang dimaksud dengan mendengarkan? Mengapa mendengarkan Yesus dan apa gunanya bagi kita mendengarkan Yesus sang putra Allah?!
Mgr Bernardus menjelaskan, konsep penulis Injil Markus ini tentang peristiwa bertitik tolak dari refleksi teologis yang bersumber pada ide kristologi apokalitik atau kristologi tentang identitas Yesus yang kemudian menjadi Kristus Tuhan dan juru selamat yang akan diperolehnya.
Kemudian setelah menjalani proses penderitaan dan salib, Ia akan menjadi juru selamat dan pembebas bagi semua. Tema transmigurasi adalah pokok tentang kemanusiaan Yesus yang akan mengalami kemuliaan abadi setelah Ia akan menjalani proses salib dan kebangkitan.
"Yesus yang imanen historis akan kembali ke dalam kemuliaan abadinya bersama Allah bapa di surga, maka pengajaranNYA bagi kita para pengikutnya bahwa kitapun akan mengalami format transfigurasi yang sama dengan Yesus asalkan kita mampu mengajarkan, mendengarkan, mampu mencintai dan mengikuti Dia,” ungkapnya.
Selain itu melaksanakan perintah-perintah cinta kasihNYA serta mampu menghidupinya dalam hidup setiap hari yaitu mengikuti jalan salibnya menuju golgota.
”Maka kita pun akan diperkenankan menikmati kemuliaan ilahiNYA dalam kemuliaan di surga secara penuh pada zaman akhir setelah perjalanan dan perziararahan di dunia ini,"tutur Uskup Bernadus.
Katanya, ffirma penderitaan Yesus sebagai anak Allah dan fiadolorosanya jalan penderitaan menjadi jalan satu-satunya keselamatan umat manusia kepada Allah di surga sebagai putra dan putri kesayanganNYA sehingga kita juga berhak akan memperoleh kemuliaan yang sama.
"Kita menjadi Alter Kristi agar menghadirkan Kristus yang lain itu, Kristus yang penuh kasih, persahabatan, dekat dengan sesama satu sama lain, menghargai martabat manusia dan alam. Itulah yang diharapkan Yesus kepada kita,"katanya.
Karena itu menurut Uskup Benediktus, manusia akan memancarkan cahaya kemuliaanNYA mulai dari sekarang dan akan sempurna pada saatnya dalam kemuliaan abadi.
Dikatakan, bahwa gunung, awan dan suara didalam awan tersebut adalah tanda atau simbol yang menampakkan kehadiran Allah sebagaimana yang dialami Musa bersama umat Israel selama perjalanan di Padang gurun menuju tanah terjanji.
Maka ketika berbicara tentang tanda atau simbol maka berbicara tentang sakramen-sakramen gereja dimana melalui tanda atau simbol gereja Kristus hadir bersuara mengajak umat untuk mendengar, mengikuti, percaya dan mencintaiNYA dalam diri satu sama lain.
"Maka dengan demikian marilah kita menyikap sikap sikap iman, ketaatan kepada ajaran dan perintah tuhan Yesus, keberanian untuk memikul salib bersama Yesus karena memperjuangkan kebenaran iman, kasih dan harapan,"ucapnya.
Tidak hanya itu, Mgr Bernadus juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya persaudaraan sejati, serta menentang sikap-sikap yang merusaknya, seperti rasisme, mentalitas superioritas, dan kesombongan.
Ia meminta, umat Katolik, khususnya yang berasal dari tradisi religius konservatif, untuk menjaga kekhusyukan dalam beribadah.
“Tradisi ini bukan sekadar pesta pora atau menyanyikan lagu-lagu, melainkan momen keheningan, kesendirian, dan meditasi untuk mendengarkan suara Tuhan. Inilah yang sangat penting dalam hidup kita sebagai biarawan,” pesannya.
Mgr Bernadus juga menegaskan pentingnya meninggalkan distraksi duniawi seperti telepon genggam agar dapat fokus pada kehadiran Yesus dalam sakramen.
Uskup juga meminta refleksi diri dalam konteks Papua dimana budaya dan mentalitas terkadang menghadirkan tantangan dalam mendengarkan sesama.
Pasalnya, setiap kali memiliki budaya atau merasa lebih tinggi dari yang lain, tentu akan cenderung meremehkan budaya orang lain.
"Anggapan bahwa budaya satu kelompok lebih hayati dari yang lain. Konsep ini harus kita tinggalkan, karena cinta Tuhan tidak hanya diukur dari materi, tetapi dari nilai kemanusiaan yang sejati,"ujarnya.
Uskup mengatakan, mentalitas superioritas budaya bertentangan dengan ajaran Yesus yang merendahkan diri demi umat manusia.
Yesus menjadi miskin dan dihina untuk uumat manusia, maka tidak ada alasan bagi mmanusia untuk mempertahankan mentalitas sombong. Kita semua adalah saudara dalam Kristus.
Pasalnya, akan ada dampak negatif dari mentalitas rasisme dan superioritas dalam sistem gereja, masyarakat, dan negara.
Banyak kebijakan yang diambil berdasarkan mentalitas rasisme dan superioritas, sehingga banyak orang tidak mendapatkan perhatian yang maksimal.
“Kita belajar dari Yesus dan para murid yang meninggalkan segalanya karena kita semua adalah saudara. Ketika kita mendengarkan dengan hati yang sungguh-sungguh, kita juga mampu mendengarkan suara orang lain,”ujarnya.
Oleh karena itu, hendaklah untuk selalu merendahkan hati. Karena kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan, yang merupakan akar dari segala dosa.
Karena sombong, dosa-dosa lain akan mengikuti, dan hati menjadi gelap serta sulit mendengarkan suara Tuhan.
Menyikapi semua itu, marilah seluruh umat, gereja, negara, pemerintah, dan semua pihak yang berkehendak baik untuk membuka hati seperti Yesus membuka hati bagi semua.
Mgr Bernadus juga menyinggung situasi di Tanah Papua, dimana masih terdapat banyak pengungsi dan permasalahan agraria.
“Mari kita dengarkan teriakan saudara-saudara kita. Gereja secara institusi dan komunitas harus berani membuka diri untuk mendengarkan dan berdialog, bukan bersikap otoriter. Karena inilah yang dikehendaki oleh Tuhan. Mari kita mohon kerajaan Allah agar cita-cita Papua damai dapat terwujud,”tutup Mgr.Bernadus. (Shanty Sang)