Ekonomi dan Pembangunan

Ternyata Setiap Bulan Pengguna Lapak Wisata Kuliner Bayar Rp165 ribu, Ini Kata Disperindag

Kawasan Pasar Sentral Mimika

MIMIKA, BM

Dibalik situasional Covid-19 yang mulai semakin membaik dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berjualan di kawasan wisata Pasar Sentral, ternyata tidak ada yang gratis.

Menurut pengakuan para pemilik lapak, ada satu kebijakan yang dilakukan oleh Disperindag Mimika terhadap para pemilik usaha kecil menengah di kawasan wisata kuniler ini yakni mereka diwajiban membayar biaya Rp165 ribu per bulan.

Kebijakan ini belum dapat dipastikan apakah bagian dari retribusi pasar, yang didalamnya termasuk uang pengamanan, kebersihan dan lainnya atau tidak.

Pasalnya, di era Michael Gomar, Disperindag tidak memberlakukan adanya pungutan di Pasar Sentral hingga sebesar itu. Pungutan seperti ini mulai dilakukan saat Disperindag dijabat Plt Petrus Pali Amba.

"Kalau jaman Pak Gomar tidak ada. Beliau paling memahami situasi kita, namun sekarang kami harus bayar 165 ribu perbulan. Kami sudah bayar mulai bulan 11 dan 12 sehingga sudah dua bulan," ungkap salah satu pedagang.

Ketika ditanyakan BM, apakah retribusi seperti ini dirasa memberatkan, mereka hanya berdalih bahwa tidak bisa menghindari kebijakan tersebut.

"Suka atau tidak suka, itu aturannya sehingga kita harus mengikutinya. Hanya saja situasi saat ini belum benar-benar normal," ungkap lainnya.

Sementara itu, kepada BeritaMimika, Rabu (05/02) Plt Kadisperindag Mimika, Petrus Pali Amba membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan retribusi pelayanan pasar mereka berlakukan sebesar Rp165 ribu.

"Yang kami lakukan itu sesuai dengan kebijakan. Rp150 ribu untuk sewa tempat sedangkan Rp15 ribu untuk sampah. Namanya retribusi pelayanan pasar," ujarnya.

Menurutnya, pemberlakukan retribusi pelayanan pasar yang diberlakukan bahkan masih dibawah aturan peraturan daerah.

"Sebenarnya dibawah aturan perda karena melihat kondisi kemarin sehingga kita sesuaikan dengan apa yang ada," katanya.

Tidak detail menjelaskan perda tersebut namun Petrus Pali mengatakan retribusi diberlakukan sesuai dengan ukuran dan besaran bangunan atau tempat.

"Semakin besar maka semakin besar pula retribusi pelayanan pasar yang harus dibayarkan," ungkapnya kepada BM. (Ronald)

Doa Warga Gang Solter Elmas Dikabulkan Pemerintah

Kondisi Jalan di Gang Solter Elmas setelah diperbaiki

MIMIKA, BM

Setelah lama dianggap tidak digubris pemerintah daerah, Jalan Yos Sudarso, Gang Solter Elmas Nawaripi kini terlihat cantik dan rupawan bak seorang gadis muda.

Jalanan ini telah di hotmix dan tidak lagi terasa seperti seakan sedang bermain ular tangga ketika melewatinya di beberapa waktu lalu.

Warga Gang Solter sebelumnya merasa bahwa jalan ini tidak masuk dalam agenda prioritas pembangunan daerah dan terkesan dilupakan begitu saja.

Wajar saja mereka beropini seperti ini karena jalan lingkungan dan jalan alternative lainnya di seputaran Kota Timika sudah diperbaiki, sementara jalan ini lambat sekali penanganannya.

Padahal sejak lama, setiap kali usulan dari tingkat bawa, jalan ini selalu berada dalam usulan prioritas warga namun terus diabaikan.

Tidak hanya sekedar jalur alternatif yang menghubungan Yos Sudarso dan Budi Utomo, di kawasan gang ini terdapat 3 gereja dan 3 sekolah yakni Paud, SD dan SMA yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam akses pembangunan.

Saking sudah tidak memperdulikan lagi perhatian pemerintah daerah, warga Gang Solter bahkan pernah melakukan subsidi mandiri untuk memperbaiki jalan mereka.

Mereka pernah menghimpun dana secara sukarela dari warga sekitar yang dikomandani pemuda dan dua kepala RT untuk memperbaiki jalan ini.

Dari hasil tersebut, terkumpul dana sebesar Rp1,6 juta dari warga dan 500 ribu dari warga yang melintas.

Uang itu kemudian mereka gunakan untuk membeli 7 ret timbunan pasir guna menimbun dan meratakan sepanjang jalan yang berlubang dan berbatu.

Namun pada akhir 2021, Jalan Gang Solter Elmas tidak lagi seperti dahulu. Selain sudah di hotmix, jalan ini terlihat semakin lebar dan sangat nyaman untuk dilalui.

Warga sekitar termasuk warga lain yang melintas jalan ini tidak lagi mengeluhkan apa yang mereka alami dahulu.

Dengan diperbaikinya jalan ini, warga tidak lagi merasa bahwa mereka dianaktirikan pemerintah.

Mereka merasa merasa bersyukur karena walaupun dikerjakan pada akhir tahun lalu (desember), warga menilai ini merupakan kado terbaik bagi mereka di Tahun Baru 2022!

"Kami warga Gang Solter berterimakasih atas perhatian pemerintah terhadap jalan ini. Sekian lama kami menunggu, akhirnya sudah diperbaiki. Ini jadi kado terbaik bagi kami di Tahun 2022 ini," ujar Erwin, pemuda Gang Soter yang dulu bersama warga melakukan penimbunan jalan tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan jalan tersebut diperbaiki Provinsi Papua menggunakan dana tahun anggaran 2021.

"Iya benar, dibangun oleh provinsi. Ada pembangunan dan pekerjaan semisal jalan yang selain dibangun oleh pemerintah daerah juga oleh pemerintah provinsi. Semoga akses dan mobilitas masyarakat sekitar terbantukan dengan peningkatan jalan itu," harap Robert Mayaut.

Mayaut juga meminta masyarakat untuk memahami bahwa pemerintah daerah maupun provinsi memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap pembangunan di Mimika.

Warga Mimika harus menyadari bahwa prosesnya terkadang lambat. Walau demikian, pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki setiap sarana dan prasarana umum yang ada termasuk jalan lingkungan.

"Jalan itu sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan dua tahun lalu, namun terkendala covid sehingga Jalan Soter Elmas dan beberapa jalan lingkungan lainnya dipending," ungkapnya.

Harus Dibuat Larangan Melintas Dengan Kecepatan Penuh

Sayangnya, ketika Jalan Gang Solter Elmas diperbaiki, banyak pengendara yang melintasi jalan ini terkadang memacu kendaraan mereka di atas kecepatan rata-rata.

Bukan warga sekitar namun pengguna jalan dari wilayah lain. Mereka terkadang tidak mengindahkan keselamatan para pengguna jalan. Bahkan ada yang kadang ugal-ugalan melintasi jalan ini seakan sedang berada di arena balapan.

Warga Gang Solter Elmas meminta Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas Polres Mimika untuk memasang dan membuat larangan terkait kecepatan dan keselamatan pengguna jalan.

Selain ada gereja dan sekolah, di kompleks ini terdapat banyak anak-anak yang sudah terbiasa bermain di sepanjang jalan ini. Jika tidak diindahkan, lambat laun akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Warga berencana untuk membuat polisi tidur mandiri namun mereka tidak ingin mendahului apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab pihak-pihak yang berwenang.

Namun jika tidak direspon maka warga akan membuat polisi tidur mandiri guna mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas di tempat mereka. (Ronald) 

 

Welcome 2022, Pasar Sentral Kini Jadi Tempat Nongkrong Pilihan

Sebagian warga Timika saat menghabiskan malam minggu (1/01) di tempat Wisata Kuliner Pasar Sentral

MIMIKA, BM

Bagi sebagian masyarakat Timika, baik kawula muda maupun orang tua, Pasar Sentral kini telah menjadi tempat alternatif bagi mereka untuk bersantai di sore hingga malam hari.

Semenjak pasar ini disulap jadi tempat wisata kuliner yang menyenangkan di masa kepemimpinan Michael R Gomar yang kini menjabat sebagai Sekda Mimika, bagian depan pasar ini (bloka A) semakin cantik dan ramai dikunjungi warga.

Bahkan setelah dipercantik, Pasar Sentral sempat menjadi pusat keramaian karena semua usaha kecil menengah yang bertebaran di ruas Kota Timika, dipindahkan ke pasar ini.

Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama dan bahkan sempat vakum. Pasalnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) nomor 6 tahun 2020 tentang Menegakan Protokol Kesehatan untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19 di seluruh Indonesia, tempat wisata kuliner di tutup sementara, termasuk di Pasar Sentral.

Instruksi SK Mendagri ini menegaskan bahwa seluruh masyarakat dilarang untuk melakukan kegiatan yang mengumpulkan massa.

Namun sejak 30 Oktober 2021, wisata kuliner di Pasar Sentral mulai kembali di buka dan kini menjadi salah satu tempat nogkrong favorit warga Timika.

Pada Sabtu 1 Januari 2022 (malam minggu), sejumlah warga Timika terlihat melewati awal tahun di Pasar Sentral. Ada yang datang dengan keluarga sembari menikmati beragam kuliner yang dijajakan di Pasar Sentral.

Sebagian juga terlihat datang berkelompok bersama teman-teman mereka, bahkan di beberapa tempat terlihat beberapa kawula muda datang dengan membawa serta pasangan masing-masing.

Bagi mereka, suasana malam di Pasar Sentral mungkin tidaklah sama dengan yang berada di kota-kota besar lainnya, namun untuk sekedar bersantai dan melewati malam bersama, kawasan kuliner di Pasar Sentra dirasa cukup menyenangkan.

Apalagi di tempat ini terdapat berbagai pilihan kuliner makanan dan minuman yang mudah dijangkau seperti es capucino caigcau, es moctail, jasin teh ocha, fresh milk, aneka cita rasa kopi, bakso goreng dan bakar, roti bakar, sate taichan, aneka juice buah, sosis bakar, burger hingga nasi goreng dan berbagai kuliner makanan lainnya.

Pemilik Kedi Maya, Ibu Maya mengatakan setelah pandemi meredah di Mimika, sejak dua bulan ini mereka mulai kembali beraktifitas di Pasar Sentral.

"Sekarang sudah mulai ramai, tidak seperti sebelumnya. Mulai ramai itu pas mulai Pesparawi. Banyak orang juga mulai sering datang. Sempat terhenti karena kasus covid dan larangan pemerintah waktu itu, tapi sekarang sudah mulai kembali normal," ungkapnya kepada BM.

Diakui Maya, walau belum semua lapak dibuka oleh pemiliknya, namun setiap malam terutama pada malam minggu, banyak warga Timika yang datang bersantai di Pasar Sentral.

"Kalau di dekat tempat saya ini banyak anak mudah yang sering nongkrong. Di sini lebih pada minuman dingin dan makanan ringan tapi kalau dibagian sana makanan berat, banyak orangtua dan keluarga sering di bagian sana," ungkapnya.

Walau pendapatan tidak menentu, namun Maya mengungkapkan setiap malam pasti selalu ada warga yang membeli di tempatnya juga di kedai yang lain.

"Sudah lumayan walau kadang ramai kadang sepih. Kalau sepih, kita bisa dapat 300-500 ribu satu malam. Kalau ramai bisa sampai 1 juta rupiah," ujarnya.

Maya bersama pemilik lapak usaha lainnya di Pasar Sentral berharap dengan semakin menurunnya kasus covid-19 dan sudah 70 persen warga Mimika diberi vaksin pertama, wisata kuliner ini kembali ramai dikunjungi warga.

"Kami semua berharap seperti itu. Apalagi kalau semua pedagang dikembalikan ke sini maka akan semakin ramai lagi seperi awal-awal buka dulu. Jika ada kebijakan lain, kami juga tidak bisa paksakan karena ini semua di atur oleh pemerintah daerah," demikian harapnya. (Ronald)

 

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top