Sebuah Ingatan Tentang ‘Evi Dai Dore’ Jurnalis Perempuan Pekerja Keras dan Murah Senyum

Almarhum Wartawan Perempuan Mimika, Yosefina Dai Dore
MIMIKA, BM
Yosefina Dai More, Aku sangat mengenalnya! Dia sudah ku anggap seperti saudara perempuanku sendiri!
Selama beberapa tahun kami pernah melewati waktu bersama sebagai seorang jurnalis (wartawan), kemudian redaktur dan pimpinan media!
Saat masih berkarya bersamanya di Media Cetak Timika eXpress, aku dan dia selalu berada di lapangan sebagai seorang jurnalis.
Hari-hari selama beberapa tahun itu kami jalani dengan saling melengkapi dan memberikan suport satu sama lain.
Wanita sederhana ini, hampir jarang kutemui ada raut kemarahan atau kebencian dalam dirinya. Sesuatu yang paling mudah kutemui darinya adalah senyumnya.
Dia adalah seorang pekerja media yang periang, suka tersenyum dan sangat ramah dengan siapapun. Tutur bahasanya lembut dan suka menegur orang-orang yang ia kenali.
Jika ada orang atau sesuatu yang kurang disukainya, dia selalu berbisik padaku dan kami selalu tertawa bersama karena sudah pasti, aku selalu melucu di ujungnya dan membuatnya terbahak-bahak.
Karena begitu dekat sebagai saudara, kami berdua punya panggilan akrab yang sering kami jadikan sebagai bahan ocehan saat melucu dan bercanda bersama.
Dia selalu memanggilku ‘keriting’ dan aku sering memanggilnya ‘bonding’! Sapaan ini terakhir kali kami saling meneriakan, setahun lalu.
Sewaktu masih menjadi wartawan bersama, aku mengenalnya sebagai seorang perempuan muda yang gigih dan pekerja keras. Aku juga banyak belajar darinya.
Ia selalu memiliki standar khusus dalam penulisan berita. Ia tidak ingin tertinggal dari yang lain, dan sangat gigih mencari sumber berita.
Bayangkan, dia adalah seorang wanita yang takut membawa motor sendiri tapi beritanya selalu memenuhi kuota tuntutan redaksi dan sangat beragam. Banyak diantaranya sering menjadi headline di Timika eXpress.
Terkadang ada peluh dan kesedihan di raut wajahnya namun ia begitu mudah menyembunyikan dengan senyumnya.
Sesekali kulihat ia juga merasa lelah dan lemah dengan banyak hal namun selalu bangkit dan kembali berjuang.
Sebagai rekan kerja yang sudah ku anggap saudara sendiri, kami berdua pun terkadang berselisih paham dalam hal-hal tertentu.
Kami pun pernah tidak saling bersuara namun selalu rujuk lagi layaknya sesama saudara yang saling memarahi kemudian tertawa, bercerita dan bercanda lagi.
Selain pernah bersama sebagai rekanan jurnalis yang menulis berita pemerintahan, politik, ekonomi, budaya, organisasi, kemasyarakatan dan lainnya, kami dua pun kemudian dipromosi naik menjadi redaktur di media Timika eXpress.
Sudah terlalu lama kami terpisah! Kami mulai jarang bertemu dan mengobrol bersama ketika saya duluan mengundurkan diri sebagai redaktur di Timika eXpress. Berapa tahun berselang, ia pun mengundurkan diri dari media ini.
Terakhir kali kami berkomunikasi terjadi ketika kami bertemu di Jakarta dan saat Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha mengunjungi Mimika beberapa bulan lalu.
Beberapa bulan belakangan ini, aku tidak pernah melihatnya. Bahkan di lapangan pun kami hampir tidak pernah bersua lagi.
Yang paling kusesali saat ini adalah di masa dia tidak pernah kutemui, aku tidak menelpon atau menanyakan kabarnya. Padahal dulu kami selalu berkabar walau hanya sekedar basa-basi.
Aku hanya berpikir dia sedang sibuk dengan urusannya dan tidak tahu kalau sebenarnya dia sedang berjuang dengan rasa sakitnya itu.
Dia memang pernah bercerita sekitar dua tahun lalu, dia sedang sakit namun sudah sembuh sehingga kembali beraktifitas sebagai wartawan sekaligus pimpinan redaktur media online Cartenz News.
Dan pada Sabtu (13/9/2025) malam, aku melihat tulisan pemberitahun yang membuatku merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja kubaca di group Jurnalis Mimika.
INFORMASI
Selamat malam utk kita semua...
Kk Evi Dai Dore telah dipanggil Tuhan meninggalkan kita semua di RS Mitra Masyarakat.
Semoga suami, anak serta keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Tulisan ini benar-benar meninggalkan sebuah keheningan dan kehilangan yang panjang buatku. Kehilangan seperti ini, sangat sukar untuk diterima dengan akal sehat.
Di pikiranku kemudian terpajang ingatan panjang pada masa lalu, saat kami pernah berjuang bersama, menjadi wartawan dan redaktur di Timika eXpress.
Informasi ini membuatku mengenang kembali semua canda tawa, kesedihan, kebahagiaan dan ekspresi lainnya yang pernah kutemui di raut wajah saudariku ini.
Ahh…. sudahlah! Aku tidak mampu lagi untuk terus mengisahkannya! Air mata kehilanganmu terus saja mengalir disini.
EVI, saudara perempuanku! Kepergianmu dalam diam yang membisu tidak hanya menyayat hatiku tapi juga hati seluruh rekan-rekan jurnalismu disini. Semua yang menyayangi dan mengasihimu bersedih karena kehilanganmu!
Selamat Jalan Yosefina Dai More!
Percayalah, ingatan tentangmu dalam kebersamaan kita, akan terus kami kenang selamanya.
Kini kau tidak lagi sakit! Kau sudah tersenyum bersama BAPA di Surga yang selalu kita temui di rumahnya, di Gereja St. Stefanus Sempan.
(Penulis Ronald R : saudara laki-lakimu yang selalu kau panggil ‘keriting’)




Kepala Disnakkeswan, drh. Sabelina Fitriani, M.Si bersama Kepala Balai Karantina Papua Tengah, Anton P Mahendra saat m