Ekonomi dan Pembangunan

Disperindag Suplai Minyak Goreng Curah Untuk Masyarakat Di Pasar Sentral Melalui Operasi Pasar


Disperindag menjual minyak goreng curah kepada masyarakat di Pasar Sentral Timika, Kamis (28/4/)

MIMIKA, BM

Disperindag Mimika menggelar kegiatan operasi pasar minyak goreng curah (subsidi) di Pusat Perbelanjaan Pasar Sentral Timika, Kamis (28/4).

Dalam operasi ini, Disperindag menyediakan minyak goreng curah yang dapat dibeli secara langsung oleh masyarakat dengan mekanisme yang sama dengan penjualan di Pasar Murah beberapa waktu lalu.

"Kemarin waktu di pasar murah kita targetkan 4 ton, namun karena kita mix dengan kemasan premium akhirnya cuma 2 ton. Jadi ini sisa dari kuota yang kemarin di Eme Neme. Hari ini kita upayakan 5 liter dulu. Ini kan untuk kebutuhan jangka pendek," ujarnya.

"Berikutnya kita upayakan supaya sudah ada di pasaran jadi tidak perlu kita adakan operasi seperti ini. Yang pasti, selama subsidi masih diberikan dari pusat maka ini akan terus berlanjut," terangnya.

Selain itu, kata Selvina, tujuan kegiatan ini juga untuk memberikan sosialisasi kepada para pedagang mengenai aturan terbaru dari kementerian perihal pembelian minyak goreng subsidi.

Dia menjelaskan bahwa dalam pembelian minyak goreng subsidi dari distributor, para pedagang diwajibkan menggunakan aplikasi Simirah yang telah disediakan kementerian di Play Store.

Namun, kata dia, penggunaan aplikasi tersebut memakan waktu yang lama sementara lebaran tinggal beberapa hari lagi.

"Memang untuk penyaluran minyak goreng ini harus menggunakan aplikasi Simirah. Jadi harus didownload, harus ada email-nya, KTP, dengan MPWP. Itu kan membutuhkan waktu lama lagi. Jadi, sambil menunggu mereka melengkapi administrasinya, kami tetap bantu masukkan suplainya supaya terpenuhi kuota yang ada karena hari raya tinggal beberapa hari lagi," kata Selvina.

"Kalau semisalkan hari-hari biasa itu mungkin kami akan tunggu saja suplai langsung dari distributor ke pedagang," imbuhnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan minyak goreng subsidi tersebut tidak diperuntukkan bagi retail modern, melainkan kepada para pedagang pasar tradisional dan juga retail-retail kecil.

Terkait keterbatasan pengetahuan mengenai cara penggunaan aplikasi, Selvina mengatakan akan berkordinasi dengan pihak distributor sehingga para pedagang dapat dibantu.

"Kami sudah komunikasikan ke distributor persoalan itu, tapi karena ini kewajiban jadi kita harus tetap scan barcode sebagai tanda terimanya. Makanya kami mengajak pedagang di pasar, kami pertemukan mereka dengan distributor agar dibantu dan dipandu menggunakan aplikasi," pungkasnya. (Ade)

Freeport Buka Pojok Kopi Papua, Kopi Mimika Akan Dipromosi Hingga Ke Amerika

Direktur PTFI Claus Wamafma meresmikan pendirian Pojok Kopi Papua yang ditandai dengan pengguntingan pita

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Pemda Mimika sejauh ini telah berkolaborasi mengembangkan perkebunan komoditi kopi.

Pengembangan dilakukan baik di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi dengan target hamparan kebun 300 hektar.

Kini perkebunan kopi di Mimika sudah membuahkan hasil. Dan hebatnya, para petani rata-rata merupakan Orang Asli Papua (OAP).

Guna meningkatkan dan mempromosikan kopi asli Papua khususnya Mimika, PTFI berkolaborasi dengan Pemda Mimika membuka Pojok Kopi Papua.

Pojok Kopi Papua bekerjasama dengann pebisnis kopi yaitu Maoke Coffee, Waanal Coffee, dan Amuro Coffee.

Pada Rabu (27/4), di Rimba Papua Hotel dilakukan peresmian oleh Direktur PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma didampingi Kepala Distanbun Mimika, Alice Wanma serta pimpinan managemen PTFI lainnya.

Direktur PTFI Claus Wamafma dalam sambutannya mengatakan, lewat Pojok Kopi Papua, PTFI membantu mempromosikan dan memberikan edukasi kepada publik bahwa Papua tidak hanya kaya akan mineral seperti emas, tembaga minyak bumi, gas dan lainnya namun ada juga kopi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

"Freeport berencana ikut membesarkan, mengkampanyekan dan mempromosikan kopi Papua terutama kopi dari Mimika," kata Claus.

Katanya, Freepot kini menjadikan kopi Mimika sebagai bagian dari quality of life buat karyawannya.

Tidak hanya karyawan namun bagi masyarakat yang ingin menikmati kopi Mimika secara gratis bisa mendatangi RPH.

Rencananya, di kantor PT Freeport baik di Mimika, Jakarta bahkan hingga di Amerika akan disediakan kopi Mimika, termasuk di terminal Freeport.

Claus menjelaskan, kopi ini akan menjadi bagian dari quality of life bagi karyawan dan sebagai upaya membantu petani kopi binaan Pemda Mimika dan PTFI dalam hal promosi.

"Dengan begitu maka kopi Papua khusus Mimika bisa semakin dikenal dan permintaan akan meningkat sehingga bisa mendorong ekonomi masyarakat petani yang ada di Mimika bahkan Papua secara umum," ucapnya.

Claus juga mengaku senang karena selain kopi, komoditas unggulan lainnya di Mimika seperti kelapa, coklat dan sagu juga mendapatkan dukungan dari pemda dan PTFI.

Terkait komoditi kelapa, Claus mengungkapkan berdasarkan laporan telah ada 580 hektar perkebunan kelapa di Mimika. Jika dikelola dengan baik maka akan sangat berdampak dalam meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Yang sangat menarik dan membanggakan adalah pemerintah daerah dan kami (PTFI-red) akan terus berupaya untuk mengembangkannya sehingga masyarakat mendapatkan hasilnya," ujarnya.

Direktur PFI Claus Wamafma bersama Kadis Distanbun Mimika, Alice Wanma saat melihat demo pembuatan kopi

Claus menjelaskan, pada 2021 ekspor kopi dari Indonesia telah mencapai nilai 809 juta dollar atau sekitar Rp11 triliun.

"Kalau dari 11 triliun ini, Papua ambil 2 triliun saja maka sudah minta ampun. Mindset anak-anak muda hari ini itu tidak lagi harus bermimpi jadi karyawan, atau jadi pegawai negeri. Anak- Anak muda sekarang kalau punya 1000 pohon kopi saja, mereka sudah bisa menghasilkan uang setiap bulan 20 juta. Kalau mau ekspor harus ada sertifikasi," Jelasnya.

Ia menegaskan bahwa produk komoditi apapun yang akan diekspor tidak boleh tercemar dengan isu pelanggaran HAM. Artinya semua produk yang dibuat harus ada penghormatan terhadap HAM.

"Jadi ini kolaborasi yang baik. Mudah-mudahan apa yang sudah kita buat sama-sama secara khusus dengan Freeport, berjalan baik karena sudah ada MoU dengan Dinas Pertanian," tuturnya.

Kepala Distanbun Mimika, Alice Wanma mengatakan, kopi adalah tanaman budidaya yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Kabupaten Mimika.

"Data yang ada di kami, pada tahun 2000 sudah dilakukan budidaya di Distrik Tembagapura dengan 33 hektar dan kopi itu sudah berbuah sampai sekarang. Kesulitan kami untuk bisa ambil hasil produksinya adalah karena transportasi," Kata Alice.

Karena masalah transportasi, kata Alice, kemungkinan produksi kopi di dataran tinggi jadi rusak karena di dataran tinggi iklim panas kurang sementara kopi harus dijemur.

"Beberapa tahun ini sudah ada kolaborasi program antara PT Freeport Indonesia melalui SLD di bidang pengembangan ekonomi masyarakat untuk lima komoditi yaitu kelapa, pinang, sagu, kopi dan kakao jadi lima komoditas ini kami sedang kembangkan dengan budidayanya,"ujarnya.

Ia mengatakan, sementara ini pihaknya juga membeli hasil produksi dari petani dan sudah ada market sederhana melalui cafe percontohan untuk membuat kopi yang diberi nama Kopi Amuro atau Kopi Amungme Kamoro.

Selain itu ada beberapa kopi juga yang berasal dari Distrik Agimuga, Jita, Tsinga, dari Mulia Kencana atau Distrik Iwaka.

"Untuk tahun ini kami akan tanam 300 hektar yang ada di Hoya dengan Alama. Nanti di dataran rendah itu sudah ada beberapa distrik," Kata Alice.

Menurutnya, Mimika kini memproduksi dua jenis kopi yaitu robusta di dataran rendah dan arabika di dataran tinggi.

Kelompok petani kopi yang beranggotakan rata-rata 10 orang petani sudah terbentuk dan mereka semakin serius untuk mengembangkan budidaya kopi.

Melalui dana Otsus, Distanmbun Mimika akan memperkuat petani mulai dari persiapan lahan, pengadaan bibit, penanaman sampai pengolahan pasca panen.

Selain Distanbun juga memberi bantuan bantuan rumah jemur, alat pengupas kopi dan alat transportasi berupa kendaraan roda tiga.

"Kita juga bantu mereka untuk tingkatkan ekonomi. Selain itu kopi juga memiliki manfaat sangat bagus untuk kesehatan," ujarnya. (Shanty)

Pasokan Kurang, Peternak Potong 40 Ekor Sapi Antisipasi Kebutuhan Lebaran

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika, drh.Sabelina Fitriani

MIMIKA, BM

Mengantisipasi kebutuhan daging jelang Hari Raya Lebaran tahun ini, beberapa peternak di Mimika akan menyembelih 40-an ekor sapi.

Hal tersebut dilakukan mengingat stok daging sapi di Timika mulai berkurang di pasaran.

Bahkan, harga daging sapi yang biasanya Rp100 ribu kini mengalami kenaikan hingga Rp130 ribu hingga Rp135 ribu.

Sementara, daging sapi yang akan dipotong oleh para peternak ini akan dijual dengan harga Rp. 170 ribu per kilonya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika, drh.Sabelina Fitriani mengatakan, kenaikan harga ini bukan tanpa sebab pasalnya biaya pengiriman dan pasokan yang ada sudah mulai berkurang.

“Sebetulnya kalau daging sebagian besar masih didatangkan dari luar karena kita pasokan di sini itu populasi sangat kecil, tidak memungkinkan memenuhi kebutuhan lokal," tutur Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika, drh.Sabelina Fitriani saat ditemui, Selasa (26/4).

Sabelina mengaku, meski pasokan sudah mulai berkurang, namun dari hasil tinjauan Disnak di para pedagang, kemungkinan besar akan ada pasokan baru yang masuk dalam 2 hari mendatang.

Namun, belum dapat dipastikan apakah pengiriman nanti on time ke Timika atau tidak karena lebaran menyisahkan beberapa hari lagi.

"Selain daging sapi, daging ayam juga mengalami kenaikan harga yakni Rp40 ribu per kilo dari sebelumnya Rp35 ribu. Hanya saja, ketersediaan pasokan daging ayam masih mencukupi. Daging sapi agak kurang karena terlambat pasokan kemudian mungkin ketersediaan di Jawa juga berkurang sehingga pada saat suplay terakhir ke Timika tidak terlalu banyak,” ungkapnya. (Shanty)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top