Pendidikan

20 Wartawan di Mimika Ikuti Pelatihan Penulisan Feature

Foto bersama di sela kegiatan

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) bekerjasama dengan Tempo Institut menggelar pelatihan penulisan Feature dengan melibatkan 20 wartawan dari berbagai media di Mimika.

Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari sejak Senin (13/7/2026) ini berlangsung di Hotel Horison Diana.

Pada pelatihan ini, narasumber yang hadir yakni, Philips Parera mangan Direktur Tempo Data Sains dsn Purwanti Diyah Prabandari selaku Managing Editor Tempo English, Dimas Ibeahim Head Of Product Tempo Media Group dan Martha Warta Silaban sebagai jurnalis.

General Superintendent External Relations PTFI, Rizal menyatakan, mewakili PTFI mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media semua dalam program pelatihan ini.

Bagi PTFI hubungan dengan media merupakan sebuah kemitraan yang berdasarkan dengan profesionalisme, saling menghormati dan tentunya berkomitmen dalam memberikan informasi yang kredibel, berimbang dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Kami percaya bahwa komunikasi yang baik didasari oleh informasi yang berkualitas sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang kredibel dan juga tentunya akan mendorong pembangunan daerah," kata Rizal.

Katanya, atas dasar itulah PTFI bersama Tempo Institut mengadakan Program pelatihan ini. Namun, program ini tidak berhenti di sini melainkan akan mencakup juga lomba karya jurnalistik dan fellowship.

"Kami apresiasi rekan-rekan Tempo Institut atas kerja sama ini dan tentunya dari teman-teman jurnalis yang berkomitmen terus belajar dan mengembangkan diri. Harapan kami pelatihan ini dapat memberikan kita ruang untuk saling bertukar pengetahuan dan juga memperluas perspektif dan tentunya memperkuat interaksi sesama jurnalis," ungkapnya. (Shanty Sang)

Satgas MBG Gelar Rakor Bahas Pelaksanaan Program MBG

Suasana berjalannya rapat koordinasi MBG bersama BGN

MIMIKA, BM

Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Mimika menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) membahas pelaksanaan program MBG.

Rapat yang dilaksanakan di Kantor Pusat Pemerintahan, Rabu (15/7/2026) dihadiri Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Tengah dan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta lembaga vertikal lainnya.

Ketua Satgas Program MBG Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong mengatakan bahwa sebelum ada putusan resmi terkait pelaksanaan MBG dari Pemerintah Pusat, Kabupaten Mimika harus sudah menyiapkan seluruh aspek pelaksanaan program.

“Sampai selesainya tahap monitoring dan evaluasi, meski ada pergantian pimpinan BGN dari Pusat, semua aspek harus tetap kita jalankan. Sehingga apabila semua rampung di Pusat, Timika sudah dalam kondisi siap,”kata Emanuel.

Katanya, antusiasme masyarakat terhadap program MBG ini semakin meningkat dan memberikan dampak positif. menurutnya, pentingnya efektivitas pelaksanaan MBG sehingga MBG dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif.

“Sebelumnya itu memang MBG ini banyak penolakan, namun saat ini animo masyarakat sudah meningkat, sehingga MBG ini menjadi lebih positif. Maka itu saya harap pelaksanaan MBG ini bisa berjalan baik,” jelas Kemong.

Namun Kemong tegaskan kepada beberapa OPD yang telah menjalankan program makan bergizi seperti Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan yang menyajikan makan bergizi bagi ibu hamil tetap dijalankan.

“Meskipun ada MBG ini, saya harap OPD yang memberikan program makan bergizi tetap dijalankan, tentunya dengan koordinasi dengan BGN. Melihat data yang belum disasar, karena kalau dari Disdik lebih kepada sekolah pedalaman,”ungkapnya.

Sementars itu, Pendamping Kepala Regional Papua Tengah, Suherman Bondar mengatakan, berdasarkan Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2006 yang ditandatangani Kepala BGN, MBG di Mimika sempat diliburkan untuk efisiensi dan tahap perombakan. Namun, melalui Nota Dinas tanggal 13 Juli, operasional kembali disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Namun pada tanggal 13–20 Juli masih berlangsung Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sehingga BGN Papua Tengah berencana pada tanggal 20 Juli seluruh sekolah aktif belajar, sekaligus launching MBG secara serentak.

“Untuk Timika, 13–20 Juli masih tahap MPLS, jadi kita berencana tanggal 20 akan launching serentak MBG yang siap operasional, namun ini juga menunggu keputusan pusat. Sedangkan untuk di Timika enam dapur siap beroperasi, sementara yang masih di suspend akan ada penyesuaian,”pungkasnya. (Shanty Sang)

Penerapan MBG Dua Hari Tanpa Nasi, Ketua Satgas MBG: Kita Fokus Evaluasi

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong dan istri Ny. Periana Kemong mencicipi MBG bersama para pelajar

MIMIKA, BM

Arahan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menerapkan kebijakan dua hari tanpa nasi, dengan mengganti karbohidrat menggunakan pangan lokal seperti ubi, singkong dan keladi. Hal tersebut untuk menyerap hasil bumi pedagang lokal sekaligus menggerakkan ekonomi petani.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nabire mulai menerapkan kebijakan dua hari tanpa nasi tersebut.

Sementara itu, di Mimika, Wakil Bupati sekaligus Ketua Satgas MBG, Emanuel Kemong, menyambut baik konsep pemanfaatan pangan lokal. Namun ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan operasional program berjalan lancar sebelum menyusun regulasi khusus.

“Ganti nasi dengan bahan pangan lokal itu sangat baik, tapi sampai saat ini kita belum membahas hal itu. Kita fokus saat ini, bagaimana program yang sudah berjalan ini bisa berjalan dengan baik terlebih dahulu,”kata Wabup Emanuel.

Terkait wacana penerapan strategi serupa, ia menjelaskan, pemerintah saat ini menyiapkan evaluasi karena pangan lokal masih belum menjadi prioritas secara menyeluruh pada dapur MBG di wilayah Mimika.

“Kalau kita bicara efektif di Mimika mungkin efektif karena pangan lokal juga banyak kita temukan, tapi bagaimana untuk anak-anak. Apakah dapat menerima?,” jelas Kemong.

Maka itu, Wabup Kemong fokus dengan evaluasi sebelum melakukan pengembangan atau penyesuaian pola menu terhadap anak-anak di sekolah.

Namun dirinya tidak menutup kemungkinan mengadopsi strategi penyerapan komoditas lokal untuk menggerakkan ekonomi akar rumput.

“Penggunaan pangan lokal tetap menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan ke depan setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh namun tentunya kita juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan gizi siswa,” ungkapnya. (Shanty Sang)

Top