Politik & Pemerintahan

Kesbangpol Gelar FGD Program Bina Politik

Foto bersama di sela-sela kegiatan

MIMIKA, BM

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Program Bina Politik sebagai langkah strategis memperkuat pendidikan politik dan demokrasi di daerah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menyusun program kerja komprehensif, mulai dari peningkatan etika budaya politik, fasilitasi kelembagaan dan partai politik, hingga optimalisasi pemantauan situasi politik menjelang Pemilu dan Pilkada.

FGD yang dilaksanakan di Hotel Kanguru, Selasa (13/10/2026) dibuka secara resmi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Santy Sondang.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Santy Sondang menyampaikan, pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan, pembinaan kehidupan politik tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah semata, namun dibutuhkan sinergi dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, DPRK, KPU, partai politik, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, maupun seluruh elemen masyarakat.

“Sinergi tersebut sangat diperlukan untuk menciptakan kehidupan politik yang sehat, demokratis, aman, tertib, dan konstruktif di Kabupaten Mimika,” kata Santy.

Menurutnya, peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus diberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan hak politik dan hak pilih secara cerdas, bertanggung jawab, serta berdasarkan hati nurani.

“Kita ingin membangun kesadaran bahwa setiap suara masyarakat memiliki arti penting dalam menentukan arah kehidupan demokrasi dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Mimika untuk semakin bijak dalam menerima, menyaring, dan menyebarluaskan informasi, jangan mudah percaya dan jangan mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dengan bersama-sama menjaga persatuan, kerukunan, keamanan dan kedamaian di Kabupaten Mimika.

Sementara itu Ketua Panitia, Kasubid Pengembangan Etika Budaya Politik, Katarina Saweri, menjelaskan bahwa tujuan utama dari pelaksanaan FGD ini adalah untuk memberikan pendidikan politik yang menyeluruh, mulai dari masyarakat umum hingga para pemilih pemula.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman publik terkait regulasi Pemilu dan Pilkada serta indeks demokrasi. Selain itu, kami juga berupaya memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Daerah, KPU, Bawaslu, akademisi, hingga partai politik dalam mengawal setiap tahapan Pemilu," kata Katarina.

Lanjutnya, FGD Bina Politik ini juga menjadi wadah penting untuk merumuskan rekomendasi strategis dan juga difokuskan pada upaya pencegahan dan mitigasi konflik politik di daerah.

"Kami berupaya mengidentifikasi potensi kerawanan sosial politik secara dini. Kami mengimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat Mimika untuk saling bekerja sama menjaga iklim demokrasi agar tetap kondusif, aman, dan damai," pungkasnya. (Shanty Sang)

Wabup : Kemajuan Mimika Harus Tetap Berpijak Pada Akar Budaya

 Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong (putih)

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong mengatakan, memasuki usia tiga dekade, Kabupaten Mimika terus mencatatkan pertumbuhan dengan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat sebagai fondasi utamanya.

Di momen ini, sangat penting untuk  menjaga jati diri daerah di tengah derasnya arus modernisasi. Kemajuan dan pembangunan Mimika tidak boleh melupakan nilai-nilai luhur serta kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.

"Di tengah perkembangan zaman, kita harus mampu melangkah maju tanpa kehilangan jati diri, dengan tetap menjaga kearifan lokal, menghormati hak-hak masyarakat adat, dan menjadikan budaya sebagai bagian penting dalam setiap langkah pembangunan," kata Wabup Emanuel usai upacara HUT Kabupaten Mimika di kantor Pusat Pemerintahan, Senin (12/10/2026).

Emanuel mengingatkan bahwa hakikat pembangunan sejatinya bukan sekadar pembangunan fisik semata seperti jalan, gedung, dan infrastruktur penunjang lainnya. Pembangunan seutuhnya harus berfokus pada investasi manusia, peningkatan kapasitas, serta pemberdayaan masyarakat agar seluruh warga Mimika mampu berdiri mandiri dan menentukan masa depannya.

"Kami berkomitmen komitmen untuk memastikan pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh penjuru wilayah Mimika. Pembangunan harus hadir untuk semua, dari kampung ke kota, dari pesisir hingga pedalaman,"ujarnya.

Wabup Kemong menilai, tiga dekade perjalanan Kabupaten Mimika ini sebagai titik transisi vital menuju fase pembangunan berikutnya.

“Saya komitmen bersama Bupati Mimika Johannes Rettob untuk melanjutkan roda pembangunan demi membawa daerah ini menuju masa depan yang lebih gemilang,” tutur Emanuel.

Secara khusus, ia mengajak peran aktif generasi muda sebagai motor penggerak inovasi, kreativitas, dan keberanian untuk membawa perubahan positif.

"Masa depan Mimika ada di tangan kita, terutama generasi muda. Mari kita bangkit dan bersatu membangun Mimika yang modern tetapi tetap berakar, Mimika yang bersih, inklusif, dan visioner,"ucapnya.

Wabup pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersatu menjaga Mimika sebagai rumah bersama bagi generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.

"Selamat Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika. Tiga dekade perjalanan, satu Mimika untuk masa depan. Bangkit, bergerak, berdaya, dan bersatu," pungkasnya. (Shanty Sang)

30 Tahun Mimika, Rekam Jejak Kepemimpinan dari Masa ke Masa

Gedung Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP3

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika kini genap berusia 30 tahun tepatnya pada 8 Oktober 2026.

Seiring berjalannya waktu, selama tiga dekade kabupaten ini terus berkembang dan mengalami pertumbuhan yang kian pesat khususnya di Kota Timika.

Tanah Amungsa Bumi Kamoro ini didiami oleh dua suku asli yakni Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan lainnya. Ada juga para pendatang dari seluruh nusantara.

Dari negeri inilah lahir para pemimpin yang menorehkan sejarah Mimika menjadi salah satu kabupaten yang dapat diperhitungkan di Papua dan Indonesia terutama karena kehadiran PT. Freeport Indonesia.

Pada momen perayaan HUT Mimika ke 30 yang dilaksanakan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika pada Senin (12/10/2026), Bagian Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) menampilkan Jejak Kepemimpinan Mimika dari masa ke masa.

Sejarah ini dimulai dari kepemimpinan Bupati Mimika pertama yang berasal dari Suku Kamoro yakni Drs.Titus Oktovianus Potereyauw.

Saat itu, ia menjabat sebagai Bupati Administrasi pada 8 Oktober 1996 hingga tahun 2001.

Kabupaten Mimika kemudian berubah status dari Kabupaten Administratif menjadi Kabupaten Definitif (Otonom)berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 4 Oktober 1999.

Pada tahun 2001, Klemen Tinal terpilih dan menjabat sebagai Bupati definitif untuk masa jabatan 2001 hingga 2006. Klemen Tinal didampingi oleh Wakil Bupati Drs. Methodius Mamapuku.

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Athanasius Allo Rafra sebagai Penjabat Bupati Mimika untuk tahun 2006-2007.

Setelah itu, Klemen Tinal SE.,MM kembali menorehkan namanya sebagai Bupati Mimika untuk periode 2008 hingga 2013, bersama Wakil Bupati Abdul Muis.

Kemudian, Abdul Muis menjadi Pelaksana Tugas Bupati Mimika untuk sisa masa jabatan periode 2008-2013 dikarenakan Klemen Tinal maju sebagai Calon Wakil Gubernur Papua mendampingi Lukas Enembe dan berhasil terpilih serta dilantik menjadi Wakil Gubernur Papua.

Pada masa transisi, Ausilious You, Spd.,MM menjabat sebagai Pejabat Bupati Mimika untuk periode 2014.

Pada tahun 2014, Eltinus Omaleng yang berasal dari Suku Amungme bersama Yohanis Bassang (OMBAS) maju mengikuti Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. OMBAS berhasil terpilih dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk periode 2014-2019.

Eltinus Omaleng kemudian kembali memimpin Mimika bersama pasangannya Johannes Rettob (OMTOB) untuk periode 2019-2024.

Pada kepemimpinan OMTOB ini sejumlah capaian berhasil ditorehkan. Selain itu, Mimika berhasil terpilih sebagai salah satu tuan rumah pendukung atau klaster penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua meski ditengah pandemi Covid-19.

Sejumlah pembangunan infrastruktur pun digalakkan dan mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dan kesehatan.

Mimika juga sukses menyelenggarakan Pesparawi XIII (Pesta Paduan Suara Gerejawi) se-Tanah Papua.

Pemerintahan OMTOB ini tak lepas dari isu-isu politik dan permasalahan hukum yang diiringi dengan raihan sejumlah prestasi.

Kemudian pada Juni hingga November 2023 Valentinus S. Sumitro S.IP.,MSi menjabat sebagai Pejabat Bupati Mimika dan dilantik kembali pada 9 September 2024 dan menjabat hingga 14 Juni 2025.

Pada 13 Januari 2025 hingga 25 Maret Yonathan D. Tangdilintin SH.,MH ditunjuk sebagai Pejabat Bupati Mimika.

Akhirnya, pada tahun 2025 Johannes Rettob maju sebagai Calon Bupati Mimika. Ia menggandeng Emanuel Kemong sebagai pasangannya yang dikenal dengan pasangan JOEL.

JOEL berhasil terpilih mengalahkan dua pasangan lainnya AIYE dan MP3. Mereka resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk masa jabatan 2025-2030.

Pemerintahan JOEL kini masih berjalan dan telah melewati satu tahun kepemimpinan tepatnya pada 25 Maret 2026 lalu. Pasangan dengan visi misi membangun dari kampung ke kota ini terus menata dan memperbaiki mulai dari akar rumput.

Pemerintahan JOEL juga berkomitmen menata birokrasi pemerintahan namun dihadapkan akan tantangan seperti adanya peraturan pemerintah pusat yang baru.

Meski demikian, pemerintahan yang masih seumur jagung ini telah menerohkan sejumlah prestasi di tingkat nasional salah satunya adalah Harmony Award, suatu bentuk pengakuan akan hidup masyarakat yang saling berdampingan secara harmonis antara satu agama dengan agama lainnya.

Di sisa waktu kepemimpinan yang masih panjang ini, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi seperti pengangguran, kemiskinan dan stunting serta persoalan kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengganggu kesehatan warga.

Harapannya di usia Mimika yang genap 30 tahun ini, “Mimika Rumah Kita, Bangkit dan Bergerak dari Kampung ke Kota Menuju Gerbang Emas”dapat terwujud demi kesejahteraan masyarakat Mimika sesuai visi misi pemerintah daerah. (Elfrida Sijabat)

Top