
Penampilan OMK Paroki St. Stefanus Sempan saat memerankan kisah sengsara Yesus dalam jalan salib hidup yang berlangsung tadi pagi, Jumat (7/4/2023)
MIMIKA, BM
Ratusan umat Gereja Katolik dari Paroki St. Stefanus Sempan, Keuskupan Timika memaknai penderitaan Yesus Kristus dengan mengikuti pertunjukan tablo jalan salib hidup yang dipentaskan pada Jumat (7/4/2023) pagi.
Prosesi jalan salib hidup yang diperankan oleh para orang muda Katolik (OMK) itu dimulai dari pelataran Gedung Tongkonan, kemudian menuju Jalan Budi Utomo, lanjut ke Busiri, lalu berakhir di Gereja Paroki St. Stefanus Sempan.
Sekitar pukul 8.00 kurang, para umat dengan setelan hitam-hitam tanda kedukaan mulai berduyun-duyun berjalan memasuki lorong Gedung Tongkonan.
Di bawah mendung langit kelabu dengan sedikit ampas gemercik rintik gerimis, tablo itu dimulai. Tatapan mata khusyuk dari para umat seketika menyoroti panggung pertunjukan.
Para prajurit Romawi dengan seragam lengkap tombak dan perisai pun tiba-tiba berlari memecah ketenangan seusai Yesus menandaskan doanya kepada Bapa.
Tanpa berpikir panjang, para prajurit langsung menangkap sosok Yesus lalu membawanya ke Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, untuk diadili dan diberikan hukuman mati lewat penyaliban.
Sorotan tatapan para umat belum beralih. Mata mereka masih tertuju pada tokoh Yesus yang perlahan ditarik dan disiksa dengan cambuk.
Pendalaman peran yang dimainkan sosok Yesus dengan penuh penghayatan sangat membuat perasaan umat paroki St. Stefanus terenyuh.
Lakon terus berlanjut dan sebuah salib telah berada di pundak Yesus. Ia pun berjalan memikul salib tersebut sembari diiringi siksaan demi siksaan serta madah lantunan nada minor menuju Golgota.
Pada beberapa perhentian, linangan air mata umat tak terbendung. Isak tangis haru itu kemudian menuntun langkah penderitaan Yesus hingga wafat di atas kayu salib yang terpancang tepat di depan pintu gereja.
Pastor Paroki St Stefanus Sempan, Maximilianus Dora, OFM, menyebut jalan salib hidup ini merupakan bagian dari permenungan atas penderitaan Yesus pada 2.000 tahun silam.
"Kita mencoba untuk mengenang kembali, merenungkan kembali bagaimana Yesus didera, disiksa, lalu kemudian sampai wafat di kayu salib," tutur Maximilianus seusai pertunjukan tablo jalan salib hidup berlangsung.
Menurutnya jalan penderitaan Yesus telah memberikan penguatan bagi iman umat katolik, khususnya umat di Paroki St. Stefanus.
"Jalan salib hidup pada hari ini sungguh-sungguh memberikan spirit bahwa sebagai manusia yang berdosa, manusia yang rapuh, kita merasa bahwa memang Tuhan itu sungguh-sungguh menebus dosa kita. Dia sungguh-sungguh mengerti dengan situasi kita," kata Maximilianus.
Dia juga mengapresiasi pendalaman peran yang ditampilkan oleh OMK serta bagaimana manuver umat Paroki St. Stefanus Sempan yang memadati prosesi pemaknaan jalan salib hidup ini.
"Anak-anak cukup berperan luar biasa. Penjiwaannya sesuai jiwa mereka, jiwa muda, sehingga mereka betul-betul mendalami peran. Mereka berhasil membuat umat yang hadir ini bisa benar-benar menghayati jalan salib ini sebagai bagian di dalam kehidupan mereka dan memberikan spirit motivasi yang luar biasa," ujar Maximilianus.
Lebih lanjut memasuki puncak kebangkitan Yesus, Pastor Maximilianus berpesan kepada para umat Katolik untuk menanggalkan dosa-dosanya serta menyesali kesalahan-kesalahan di dalam setiap perbuatan yang telah dilakukan selama ini.
"Pantaslah bahwa kita harus mengakui bahwa kita ini orang berdosa, supaya dengan demikian kita mengalami pasca kebangkitan Tuhan, sehingga manusia-manusia lama yang penuh dengan dosa, kita tinggalkan dan kita bangkit bersama Tuhan untuk menjadi manusia-manusia baru berjalan bersama-sama Tuhan," pesan Maximilianus.
"Dan semoga di tahun-tahun yang akan datang kita betul-betul menjadi manusia yang memiliki iman yang berkembang di dalam imannya lalu kemudian teguh dalam pengharapan dan juga cita-cita maupun harapan-harapan keluarga," harap Maximilianus menutup. (Endy Langobelen)