Budaya

Bundaran Baru SP 2 Tolong Diperhatikan dan Dirawat

Bundaran SP II, warnanya mulai redup

MIMIKA, BM

Baru dibangun beberapa waktu lalu, kondisi bundaran SP 2 yang kini telah menjadi ikon baru bagi Mimika terlihat tidak terurus.

Selain banyak rumput dan coretan-coretan, di bundaran ini banyak ditemukan sampah plastik dan ludah pinang. Sayang sekali jika hal ini tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah termasuk masyarakat Mimika.

Warga yang selalu melintasi bundaran yang menghubungkan SP V, SP II dan SP III menilai bundaran tidak lagi kincrong seperti awal-awal dibangun, apalagi warnanya pun mulai terlihat pudar dan penuh dengan debuh.

"Kalau bisa bundaran ini terus dirawat dan dikontrol, minimal oleh satpol pp. Kadang orang-orang yang nongkrong disitu juga tidak tahu diri karena buang sampah sembarangan," ujar Irwan warga SP II yang menghubungi BeritaMimika, kemarin sore.

Ia juga menyayangkan karena bundaran ini mulai dipenuhi dengan rerumputan liar yang tumbuh bersama bunga-bunga yang ditanam di areal ini.

"Ada tanam bunga di dalam tapi rumput dan bunga berlomba-lomba mana yang subur. Kalau bisa dibersihkan, rumput liar sudah tinggi. Disitu juga kalau bisa disiram karena kalau panas penuh dengan debuh," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah melalui instansi teknis yang mengola bundaran ini dan beberapa ikon daerah lainnya rutin melakukan perawatan.

"Pemerintah tugasnya kontrol tapi sebagai masyarakat kita juga harus menjaganya suoaya tetap bersih, terutama yang tinggal di sekitar bundaran," harapnya. (Ronald)

OKIA Salurkan 100 Karung Beras untuk Warga Terkena Musibah Longsor dan Banjir

Bantuan sembako untuk masyarakat disentralkan di posko OKIA

MIMIKA, BM

Organisasi Kaum Intelektual Amungme dan Kamoro (OKIA) Mimika memberikan perhatian lebih kepada masyarakat Distrik Mimika Tengah dan Tembagapura yang terkena bencana alam banjir dan tanah longsor.

Bantuan untuk masyarakat Distrik Tembagapura yakni Jagamin, Baluni dan beberapa kampung lainnya telah diserahkan ke posko bantuan di Jayanti dan telah didistribusikan ke atas.

Sementara untuk Kampung Aikawapuka dan Miyoko di Mimika Tengah, OKIA sesuai rencana akan menyalurkannya pada esok hari.

Kepada BeritaMimika di posko OKIA, Yohannes Kemong mengatakan bantuan yang diterima OKIA didapatkan dari para donatur berupa sembako dan uang hingga pakaian bekas. Selain donatur, OKI juga secara langsung turun jalan melakukan penggalangan dana di beberapa titik.

Ia merincikan, bantuan dari Bapak Abraham Timang Rp 55 juta, Septinus Timang Rp 2 jutaIbu Eva Rp 4 juta, Diana Kelanagame 2 juta dan Gusti Takati Rp 500 ribu. Selain itu sebanyak Rp 2,7 juta merupakan hasil pencarian dana OKIA secara langsung pada Senin kemarin.

"Bapak Abraham Timang kasih cash ke kami 5 juta. Sedangkan 50 juta langsung dibayar ke toko sembako dan kami tinggal ambil sembako langsung dari sana," ungkapnya.

Adapun sembako yang dibeli adalah beras 25 kilogram sebanyak 100 karung, supermi 70 karton, sardines 50 karton, gulaku 20 karton, kopi senang 25 pak, minyak goreng 2 liter 25 karton, vitsin 25 pak, garam 25 bantal dan biskuit malkist sebanyak 25 karton.

Selain itu ada pula sumbangan pakaian layak pakai sebanyak 7 kantong plastik dan beberapa makanan ringan untuk anak-anak.

"Semua bantuan ini kami bagi dan distribusikan secara merata ke Baluni dan Aikawapuka. Untuk Baluni dan kampung-kampung di Tembagapura sudah diantar sementara ke Aikawapuka dan Miyoko, rencananya besok," jelasnya.

Dari dana yang terkumpul, Yohanes Kemong mengatakan sebesar Rp7,6 telah juta digunakan membeli bbm dan sembako pada waktu mengunjungi masyarakat di Aikawapuka dan Miyoko beberapa waktu lalu.

"Ketika dengar informasi waktu itu, beberapa anggota OKIA langsung turun ke dua kampung ini. Kondisi di sana sangat memprihatinkan. Motor laut yang kami pakai kebetulan punya anak OKIA jadi kami hanya beli bbm sedangkan sisanya kita gunakan beli sembako buat mereka. Kami janji kami akan kembali lagi, itulah mengapa kami harus buka posko bantuan untuk mereka termasuk untuk di atas," jelasnya.

Kemong menegaskan bahwa apa yang dilakukan OKIA untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh warga di Distrik Tembagapura dan Mimika Tengah.

"Bantuan seharusnya memang lewat pemerintah tapi kami sebagai anak negeri harus melakukan sesuatu untuk warga kami. Ini daerah Amungme dan Kamoro dan itu warga wilayah adat. Kami harus tunjukan rasa kepedulian kami sebagai anak negeri," ujarnya.

"Kita tidak perlu harus menunggu karena kalau menunggu lama, mereka di sana bagaimana? Mereka lapar dan menderita dengan kondisi yang ada. Kalau bukan kami, siapa lagi? Semua orang pasti akan peduli tapi kami harus memulai dulu dan lainnya pasti akan berikan perhatian yang sama," lanjutnya.

Hanya saja yang disayangkan OKIA, banyak anak negeri dengan ekonomi berkecukupan kurang menunjukan kepedulian mereka terhadap kondisi ini.

Ia berharap bukan hanya warga Amungme dan Kamoro namun masyarakat Mimika diminta untuk terketuk hati mereka akan keadaan ini.

"Kami berharap seluruh OKP, OK dan LSM, pengusaha, lembaga-lembaga terlebih Lemasa, Lemaso dan Yahamak harus punya hati dan peduli kepada masyarakatnya. Kalau bukan kita siapa lagi? Kita dulu nanti suku kekerabatan lain akan sayang kita. Bencana di tempat dan daerah lain, semua peduli. Tetapi di negeri sendiri, di gunung dan kali sendiri, di depan mata kita semua, kita kurang peduli," harapnya. (Ronald)

John Rettob : Saya Jadi Wakil Bupati karena Uskup John

Almarhum Uskup Mgr John Philip Saklil Pr

MIMIKA, BM

Hari ini, Kamis (3/8) merupakan satu tahun umat katolik dan masyarakat Mimika memperingati kepergian mendiang almarhum Uskup Keuskupan Timika, Mgr John Philip Saklil Pr.

Perayaan satu tahun dilakukan di lokasi kuburan Kantor Keuskupan Timika dan dihadiri oleh para pastor, suster, dewan gereja, perwakilan pemerintah daerah, tokoh agama, masyarakat dan tokoh adat serta umat katolik.

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dalam sambutan mengenang Uskup John Saklil, ia mengatakan pembangunan di Mimika tidak bisa lepas dari peran Keuskupan Timika.

Almarhum Uskup John Philips Saklil Pr diakuinya selalu ada dan bersama dengan pembangunan di negeri ini.

Sejak Kabupaten Mimika menjadi kabupaten definitive tahun 2001, ia selalu berada dan berjalan bersama Bupati Mimika Klemen Tinal yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua dalam mengisi pembangunan.

"Pemerintah daerah bersama masyarakat Mimika mengucapkan terimakasih atas peran, karya, pengabdian dan pengorbanan bapak uskup di kabupaten ini," ujarnya.

John Rettob mengakui ia sangat dekat dan bersahabat dengan almarhum Uskup Saklil. Bapak uskup bahkan melibatkannya dalam pembangunan gereja dan kantor keuskupan.

Menurutnya, banyak pemikiran, ide dan pesan serta perjuangan untuk membangun masyarakat dan keuskupan di Mimika, jadi panutan baginya.

"Secara pribadi saya mengenal beliau dengan baik dan ikut serta dalam membangun gereja dan menjadi ketua panitia pembangunan kantor keuskupan ini. Banyak pikiran-pikiran yang beliau sampaikan, bukan hanya tentang ini namun juga untuk masyarakat Mimika," jelasnya.

Dikatakan Wabup John, almarhum semasa hidup juga bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan, perekonomian hingga transportasi.

"Ini semua bersama bapak uskup kami pikirkan sama-sama. Terimakasih atas peran ini sehingga masyarakat yang ada di Nayaro, Tipuka dan lainnya selalu mendapatkan kesempatan yang luar biasa. Bapak uskup memberikan dukungan penuh dan saya merasa terimakasih sekali atas berbagai pikiran yang beliau berikan kepada saya secara pribadi," ungkapnya.

Di momen ini, Wabup John juga mengisahkan bagaimana awal ia diminta oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng menjadi wakil bupati di periode keduanya.

Waktu itu, banyak yang menolak. Selain keluarga, John Rettob kemudian mendatangi tokoh-tokoh lintas agama untuk meminta pendapat dari mereka. Uskup Saklil adalah orang terakhir yang ia datangi sebagai pemimpin umat dan orangtua baginya.

"Saya menjadi wakil bupati karena bapak uskup Jhon Philips Saklil. Banyak orang menolak, ketika saya sampaikan hal ini juga kepada pastor Amandus, beliau bilang coba tanya bapak uskup. Dan bapak uskup kunci daripada semuanya sehingga saya berdiri di sini sebagai wakil bupati. Bapak uskup bilang jalan dan harus engkau maju dampingi beliau," kisahnya.

Setelah setahun bertempur dan jatuh bangun dalam politik pilkada, pasangan Eltinus Omaleng dan Johannes Rettob (OMTOB) terpilih sebagai bupati dan wakil bupati periode 2019-2024.

Almarhum Uskup John Philip Saklil Pr sepertinya telah mengetahui bahwa disharmonisasi antara keduanya yakni Bupati Eltinus Omaleng dan Wakil Bupati Johannes Rettob akan terjadi.

"Setelah satu tahun saya datang temui beliau dan sampaikan kami sudah menang. Beliau berpesan ke saya 'kuatkan iman dan mental'. Bapak uskup, terimakasih untuk semua peranmu.  Saya tidak akan melupakan semua itu," ujar Wabup John Rettob dengan tegar.

Kepada masyarakat Mimika, khususnya warga Suku Amungme dan Kamoro sebagai pemilik negeri ini, Wabup John menyampaikan ucapan terimakasih yang mendalam.

Ia berharap, apa yang menjadi pesan dan karya kerasulan almarhum Bapak Uskup John Philips Saklil Pr baik secara iman maupun pembangunan untuk Mimika, terus hidup dan selalu ada dalam ingatan semua yang mencintainya.

"Terimakasih bapak uskup. Kami semua merindukanmu, doakan kami selalu agar dapat berbuat lebih untuk negeri ini, seperti yang telah engkau lakukan," ujarnya dengan nada sedih dan linangan air mata. (Ronald)

Top