Hukum & Kriminal

Polisi Lidik Pelaku Jambret di Kompleks Perumahan Grya Intan

Kanit Reskrim Polsek Mimika Baru

MIMIKA, BM

Kepolisian sektor (Polsek) Mimika Baru masih melakukan penyelidikan terhadap pelaku jambret yang beraksi di kompleks perumahan Grya Intan pada Jumat (4/3) lalu.

"Sampai sejauh ini kita masih lidik," kata Kapolsek Mimika Baru melalui Kanit Reskrim, Ipda Yusran saat ditemui diruang kerjanya.

Menurutnya, pelaku jambret yang sedang dalam lidik belum bisa dipastikan apakah pemain lama atau pemain yang tergolong baru.

"Kita belum bisa pastikan itu ya," ungkap Yusran dengan singkat.

Terkait kasus ini, Yusran menuturkan, sebelum kejadian korban sudah dibuntuti oleh pelaku, sehingga pelaku nekat melancarkan aksinya.

Kejadian jambret yang menimpa seorang ibu rumah tangga (IRT) ini terjadi pada Jumat (4/3) di kompleks perumahan Grya Intan. Sebelum kejadian, korban bersama anaknya baru pulang berbelanja.

Sesampai depan rumah dan hendak masuk, tiba-tiba pelaku yang mengggunakan sepeda motor menghampirinya dan langsung merampas tas yang masih dikenakannya kemudian kabur.

Atas kejadian tersebut korban langsung membuat laporan polisi agar pelaku secepatnya ditangkap dan diproses hukum. (Ignas)

Mencuri Sepeda Karyawan di Basecamp, Tiga Anak Diamankan Polisi

Ketiga anak laki-laki saat digiring ke Polsek Miru beserta BB dua sepeda untuk diberikan pembinaan

MIMIKA, BM

Tiga anak laki-laki yang masih berusia sekolah diamankan sementara di Polsek Mimika Baru guna diberikan pembinaan serta pernyataan sikap untuk tidak mengulangi perbuatan mereka akibat ketahuan mencuri.

Ketiga anak laki-laki ini kedapatan mencuri sepeda milik karyawan yang terparkir di Basecamp PT Freeport Indonesia, tepatnya dekat Bandara Mozes Kilangin.

Berdasarkan data lapangan yang dihimpun wartawan BM, ketiga anak ini ketahuan setelah salah satu dari mereka berinisial N diamankan terlebih dahulu oleh pihak security pada Rabu (16/3).

Dari anak tersebut, anggota Polsek Mimika Baru kemudian mengamankan dua anak laki-laki lainnya yang berinisial R dan O yang sebelumnya sempat kabur.

Berdasarkan keterangan keduanya, dua sepeda yang telah diambil bulan lalu kemudian diambil oleh anggota Polsek dan membawanya ke Kantor Polsek Mimika Baru.

"Ini sudah yang kedua kalinya dan berhasil kita amankan satu orang ini. Kalau kehilangan sepeda untuk pertama kali itu tidak kami laporkan ke polisi. Mereka curi sepeda dengan cara masuk ke area kerja Freeport melewati hutan sehingga tidak dilihat security yang bertugas," kata Zulhendri, Kepala Aor 2 SRM Freeport.

Zulhendri mengatakan, ketiganya bisa diamankan karena anak yang berinisial N tengah mencoba melakukan aksinya lagi. Ia ketahuan hendak mencuri kembali satu unit sepeda milik karyawan yang diparkir.

"Kita amankan dia saat sementara memotong tali kunci yang dipasang di sepeda dan sudah hampir putus," ujarnya. (Ignas)

Karena Lem Aibon, Sebagian Anak-Anak Mimika Dikhawatirkan Kehilangan Masa Depan! Salah Siapa?

Seorang anak sedang menghisap lem aibon (Foto Google)

MIMIKA, BM

Sebagian Anak-anak kecil Amunge dan Kamoro serta beberapa suku kekerabatan Papua lainnya di Mimika, saat ini sedang berada dalam situasi mengkhawatirkan untuk masa depan mereka.

Pasalnya, sebagian dari mereka kini aktif mengunakan aica aibon atau lem aibon. Rata-rata mereka merupakan anak usia sekolah dan ada yang tengah mengenyam pendidikan, namun ada pula yang putus bahkan tidak bersekolah sama sekali.

Terkadang mereka mudah ditemui baik sendiri maupun berkelompok di beberapa ruas jalan dan lorong di Kota Timika.

Kenyataan yang tidak bisa dipandang sebelah mata ini tentu saja sangat mengkhawatirkan karena bagaimanapun, anak-anak ini merupakan masa depan Mimika dan Papua.

Disisi lain, peredaran lem aibon atau lem Fox kini dijual bebas di Timika oleh pedagang untuk mencari keuntungan.

Sayangnya keberadaanya justru disalahgunakan oleh anak-anak kita, apalagi didukung karena tidak adanya pengawasan yang ketat oleh orangtua, masyarakat dan pemerintah.

Ketua ATM Mimika, Rikardo Magal, mengatakan, penggunaan lem aibon ini marak digunakan oleh generasi muda atau anak sekolah. Jika ini terus dibiarkan tanpa adanya pengawasan atau penertiban maka akan merusak generasi muda saat ini terlebih anak muda Papua.

"Padahal anak-anak muda ini harusnya duduk di bangku sekolah dan aktifitas mereka itu harusnya belajar. Namun semua ini juga tidak terlepas dari pengawasan orang tua. Jadi, pengawasan dari orang tua juga sangat diperlukan," kata Rikardo.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Mimika harusnya bisa menerbitkan peraturan tentang pembatasan lem aibon. Atau bahkan pihak keamanan bersama stakeholder lainnya dapat melakukan operasi penertiban lem aibon.

Ia menyayangkan peredaran lem aibon di Timika terbilang bebas tanpa pengawasan oleh pihak terkait.

Lebih parah lagi pengusaha kecil (kios) yang ada di Timika juga seakan mendukung karena ada beberapa yang sengaja menjual secara bebas dan murah kepada anak-anak dan remaja hanya untuk mencari keuntungan tanpa memikirkan nasib generasi ini.

Katanya, beberapa waktu lalu ada video viral yang dipublish oleh seseorang dan hal itu dapat menjadi masalah yang serius.

Mengapa? karena secara ilmu kesehatan, efek mabuk lem aibon tidak jauh berbeda dengan efek menggunakan narkoba jenis sabu, heroin dan sejenisnya.

Menurut Rikardo, untuk masalah narkoba di Mimika tetap menjadi prioritas Polisi dan BNN sehingga ia secara khsusus menyoroti bagaimana sikap semua pihak terhadap pencegahan penggunaan lem aibon bagi anak-anak.

Ia menuding, bahwa maraknya peredaran aibon di sebagian anak-anak usia sekolah disebabkan karena kurang peduli dan kurang maksimalnya pengawasan orangtua dan keluarga terhadap mereka.

Akibatnya, lingkungan dimana mereka berada sangat berperan dalam mempengaruhi mereka menjadi pengguna dan pemakai lem aibon.

Kebebasan itu kemudian juga membuat mereka mengenal dunia dengan cara seperti itu sehingga terkadang berdampak pada perbuatan yang melawan hukum, sekalipun mereka masilah anak-anak.

"Maka saya pikir soal lem aibon ini jangan kita anggap remeh dan sepeleh, karena generasi ini ketika dia mengalami sebuah pengalaman yang dialami sejak usia dini maka di usia dewasa dia akan mengenal hal yang lebih jahat lagi seperti ganja, sabu-sabu dan lain-lain," ujarnya.

"Keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena generasi kita Papua ke depan akan hancur, mati dengan kebiasaan serta kehidupan dunia setan seperti ini," tambahnya.

Dikatakan, bahwa kehidupan neraka kecil ini seharusnya tidak ada di lingkungan atau keseharian dan kehidupan mereka.

Menurutnya kurangnya pengawasan orangtua memang menjadi hal mendasar tapi secara kemanusiaan dan tanggungjawab moral, semua pihak baik pemerintah, pihak keamanan dan masyarakat sekitar juga seharusnya memilii peran yang sama.

"Saya pikir video viral yang sudah di publish ini perlu kita sikapi baik. Harus ada tindakan-tindakan yang lebih serius untuk menangani persoalan ini. Kasihan ade-ade kita ini," tuturnya.

Rikardo Magal mengajak semua yang ada di Mimika agar bersama melihat dan menyelesaikan persoalan ini dengan baik.

Sekali lagi, secara khusus Ia meminta pemerintah dan pihak keamanan untuk melakukan operasi khusus terhadap pengusaha terutama kios-kios yang menjual lem aibon secara sembarangan apalagi ilegal. Jika mereka terlibat memudahkan akses jual beli terhadap anak-anak ini maka harus ditindak tegas.

"Sebab, saya lihat ini ada semacam sistem pembunuhan karakter anak-anak Papua berusia dini. Saya sangat menyesal jika itu sampai terjual di pengusaha kalangan kecil. Ini sebenarnya ada apa, apa sebenarnya yang mereka buat dan mereka rencanakan!? Ini yang perlu kami pertanyakan, kita harus investigasi soal ini karena kami takut hal-hal yang terjadi di luar sana bisa segala cara orang-orang lakukan juga di sini," ujarnya.

Jikapun tidak ada sikap tegas dari pemerintah daerah dan pihak keamanan, Rikardo berharap kepada tokoh masyarakat yang punya hati untuk melihat persoalan ini secara bersama-sama guna melakukan operasi dan pemusnahan lem aibon ini.

"Mari kita selamatkan generasi anak-anak Papua saat ini. Jika mereka terus berada dalam situasi ini, mereka akan kehilangan masa depan. Sampai kapan hal seperti ini terus dibiarkan menghantui hidup mereka," ungkapnya dengan nada sedih. (Shanty/Ronald)

Top