Januari - Juni Ada 28 Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Mimika

Maria Rettob, Kepala DP3AP2KB Mimika
MIMIKA, BM
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika mencatat kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi sejak Januari hingga Juni 2021 sebanyak 28 kasus.
Jumlah kasus ini meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun lalu yakni 20 kasus. Apalagi ini baru pertengahan Tahun 2021, jika tidak disikapi secara serius, jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti.
"Tahun 2021 kasus cukup tinggi. Di 2021 sudah ada 28 kasus dan ini baru sampai bulan Juni. Semua orang terutama orangtua harus waspada dan peduli terhadap keadaan ini, ujar Kepala DP3AP2KB, Maria Rettob kepada BM saa ditemui di Gedung Tongkonan, Selasa (22/6).
Diterangkan Maria, faktor terjadinya kekerasan seksual terhadap anak diakibatkan karena sering menonton video porno dan pengaruh minuman keras (miras).
Di samping itu, para pelaku rata-rata merupakan orang yang dekat dengan korban seperti ayah kandung, ayah tiri, paman, tetangga, bahkan karyawan yang tinggal di rumah korban.
"Kalau pelecehan seksual sudah pernah sampai di pengadilan juga tapi semua itu tergantung dari pihak keluarga. Untuk pelaku itu bukan ranah kami tapi itu ranah kepolisian dan kejaksaan, kalau kami hanya melayani dan membina korban," tutur Maria.
Maria meminta agar orang tua dapat memantau gerak gerik anaknya, karena ketika kejadian tersebut terjadi pada anak-anak, mereka takut melaporkannya karena ancaman dan intimidasi oleh pelaku.
Menurutnya, setiap orangtua sangat memahami perilaku dan kebiasaan anak mereka. Ketika anak yang biasanya periang, kemudian menjadi murung dan suka menyendiri maka orangtua harus mencari tahu penyebab perubahan sikap anaknya.
"P2TP2A masih berjalan. Sejauh ini penanganan terhadap korban kita dampingi terus, kami lakukan visum di RSUD, kalau memang terjadi luka kami tetap melakukan pendampingan sampai sembuh," ujarnya.
Menurutnya, kekerasan seksual terhadap anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikis mereka. Terhadap mereka yang menjadi korban, DP3AP2KB selama ini terus melakukan pendampingan dengan melakukan trauma healing guna mengembalikan rasa percaya diri anak.
"Kebanyakan yang kami dengar, ternyata ada pelaku yang lakukan hal tersebut karena dulu dia juga mengalami hal yang sama. Kami juga sudah membentuk forum anak dan remaja sehinga apabila mereka melihat dan mendengar ada kejadian kekerasan maka mereka segera melapor," ungkapnya. (Shanty)





